[REVIEW & ANALISIS FILM] Film Adaptasi Novel Lolita (1997) dari Perspektif Postmodernisme dan Feminisme

11:13 PM

Lolita merupakan sebuah film adaptasi kedua dari novel dengan judul sama (ditulis oleh Vladimir Nabokov) yang disutradarai oleh Adrian Lyne dan dirilis pada tahun 1997 — 35 tahun setelah film adaptasi pertama yang disutradarai oleh Stanley Kubrick dan dirilis pada tahun 1962.

Sampul buku Lolita

Film Amerika-Perancis dengan genre Romance tersebut menceritakan hubungan antara seorang lelaki paruh baya bernama Humbert Humbert dengan seorang perempuan remaja berusia 14 tahun bernama Dolores Haze, yang kemudian dipanggil oleh Humbert dengan nama Lolita.

Humbert pertama kali bertemu dengan Dolores pada saat lelaki yang baru saja diterima sebagai pengajar di New Hampshire tersebut ingin mencari sewa kamar untuk tempat tinggal, dan kebetulan Humbert mendapatkan tawaran dari Charlotte Haze yang merupakan ibu dari Dolores. Ketika Humbert melihat Dolores untuk yang pertama kalinya, seketika ia merasakan ketertarikan yang besar dan langsung menyetujui tawaran Charlotte.

Di awal film, Humbert memang ditunjukkan bahwa ia kehilangan kekasihnya di masa remaja awal karena meninggal dunia, dan kejadian traumatis tersebut membuat Humbert memiliki ketertarikan secara seksual pada perempuan remaja awal, yang biasa disebut dengan Hebefilia, meski pada usianya yang telah menginjak paruh baya. Hal tersebut menjelaskan ketertarikannya pada Dolores.

Ekspresi dan dialog Humbert ketika pertama kali melihat Dolores atau Lolita; ia berkata, “beautiful.”

Lolita dari pandangan Humbert

Lama kelamaan, Humbert pun menikahi Charlotte dengan tujuan agar bisa mendekati Dolores, meski harus sembunyi-sembunyi karena Humbert tahu bahwa yang ia lakukan adalah hal yang dianggap tabu. Semakin lama, kedekatan fisik antara Humbert dan Dolores pun semakin intens, bahkan hingga Dolores dikirimkan ke asrama putri oleh ibunya karena Dolores dianggap mengganggu keintimannya dengan Humbert.

Sampai suatu saat, Charlotte menemukan buku catatan Humbert tempat ia menuliskan seluruh hasrat terpendamnya tentang Dolores dan rasa jijiknya terhadap Charlotte. Perempuan tersebut pun pada akhirnya meninggal dunia karena kecelakaan, lalu Humbert dengan sesegera mungkin menjemput Dolores, untuk road trip (berjalan-jalan keliling berbagai negara bagian di Amerika Serikat menggunakan mobil pribadi).

Di situ, terlihat jelas bagaimana Humbert berusaha menguasai Dolores dan Lolita berusaha memanipulasi Humbert, masing-masing agar mendapatkan apa yang mereka mau — sebuah hubungan yang jauh dari kata sehat.

Pada akhirnya, Dolores pun kabur dari Humbert dan memilih untuk bersama Clare Quilty, lelaki yang namanya sebelumnya tidak diketahui oleh Humbert dan yang ternyata sejak awal telah mengikuti mereka sejak awal mereka road trip.

Beberapa tahun kemudian, Humbert mendapatkan surat dari Dolores yang pada saat itu telah berusia 17 tahun agar laki-laki tersebut mengirimkannya uang, lengkap dengan alamat tinggal Dolores saat itu. Setelah Humbert mendatanginya, ternyata Dolores telah menikah dan hamil tua.

Pada saat itulah Humbert mengetahui fakta bahwa yang membawa Dolores kabur adalah Quilty, dan Quilty yang ternyata seorang produsen pornografi anak-anak pun meninggalkan Dolores ketika perempuan tersebut menolak untuk tampil di film pornografinya.

Di akhir film, Humbert lalu membunuh Quilty sebagai pembalasan dendam dan kemudian ia dikejar-kejar oleh polisi. Film pun ditutup dengan text-on-screen yang berkata bahwa Humbert meninggal dunia di penjara pada tahun 1950, dan Dolores juga meninggal dunia karena komplikasi pada saat melahirkan di bulan berikutnya.

Bila membicarakan tentang film Lolita sebagai film adaptasi dari novel, tentunya tak bisa melepaskan diri dari karya asli yang menjadi inspirasi dari lahirnya film tersebut. Novel yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1955 tersebut ditulis oleh seorang penulis keturunan Rusia-Amerika yang bernama Vladimir Nabokov.

Dalam beberapa sumber, salah satunya dalam paper yang ditulis oleh McHale (1986), Nabokov merupakan salah satu tokoh yang dianggap sebagai penulis novel dalam karyanya terdapat unsur postmodernisme. Bahkan, ia dianggap menjadi jembatan antara literatur modern dengan literatur postmodern dengan novelnya yang berjudul Lolita — sebuah fakta yang tidak bisa diabaikan bila kita ingin membicarakan film Lolita yang sudah pasti memiliki pengaruh dari karya aslinya.

Seorang teoris film, Stam (2000), dalam bukunya yang berjudul Film Theory mengungkapkan ada beberapa cara umum yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi genre film, salah satunya adalah dari literatur:

‘[W]hile some genres are based on story content (the war film), other are borrowed from literature (comedy, melodrama) or from other media (the musical). Some are performer-based (the Astaire-Rogers films) or budget-based (blockbusters), while others are based on artistic status (the art film), racial identity (Black cinema), locat[ion] (the Western) or sexual orientation (Queer cinema).’

Berdasarkan pernyataan Stam di atas, Lolita yang merupakan film adaptasi dari novel postmodern juga dapat dikategorikan sebagai film bergenre postmodern karena pengaruh dari literatur aslinya. Maka dari itu, dinilai tepat apabila film adaptasi ini dianalisis dengan menggunakan teori postmodernisme.

Menurut Taylor (2002) dan Sim (2013), filosofi dari postmodernisme seringkali mengeskpresikan skeptisismenya terhadap karakteristik oposisi biner yang dimiliki oleh strukturalisme, seperti memisahkan secara hitam-putih antara baik dengan buruk, kehadiran dengan ketidakhadiran, pengetahuan dengan ketidaktahuan, kemajuan sosial dengan kemunduran sosial, dan juga dominasi atau kekuasaan dengan ketundukan atau kepatuhan.

Postmodernisme menolak mentah-mentah oposisi dan polarisasi biner ini, karena seakan-akan mengeliminasi gray area dengan pemikiran hitam-putih.

Dalam genre film postmodern sendiri, penolakan atas oposisi biner yang berakar dari filosofi postmodern tersebut seringkali dihadirkan dengan cara menyajikan unsur ironi di layar kepada audiens, seakan-akan memparodikan filosofi strukturalis dengan oposisi binernya (Prince, 2004).

Unsur ironi yang ditampilkan melalui audio dan visual dari film bergenre postmodern itu sendiri dimaksudkan untuk memparodikan genre film lain. Booker (2007) menjelaskan bahwa film dengan genre postmodern akan berusaha menyamarkan diri dan melabeli dirinya sendiri sebagai bagian dari genre yang dianggap mainstream dan dikonsumsi oleh klahayak luas, seolah-olah film tersebut memang dimaksudkan untuk memiliki genre tersebut.

Poster film Lolita yang terlihat seperti poster-poster film bergenre Romance pada umumnya

Prince (2004) juga menyatakan bahwa penyajian unsur ironi dengan cara memparodikan tersebut pun pada akhirnya melahirkan unsur baru, yakni ekstremisme, yang mana unsur ironi tersebut ditampilkan melalui visual dan penggambaran karakter dalam film secara ekstrem dan berlebihan untuk memberikan penekanan yang lebih terhadap ironi yang sengaja ditampilkan dalam film bergenre postmodern.

Dalam film postmodern, karakter utamanya seringkali digambarkan sebagai karakter yang tidak mudah untuk dibenci tapi juga tidak mudah untuk disukai — seakan-akan memparodikan film-film pada umumnya yang biasanya menggambarkan karakter utamanya sebagai karakter yang likeable sehingga penonton akan mendukung karakter tersebut (Ibid).

Sama seperti di novel aslinya, dalam film Lolita juga mengandung banyak unsur ironi yang memparodikan banyak hal lain yang membuatnya memiliki kualifikasi untuk dapat diklasifikasikan sebagai karya film dengan genre postmodern.

Yang pertama adalah mengenai genre “asli” dari film tersebut, yaitu Romance, yang mana dua genre tersebut merupakan genre yang banyak digemari oleh mainstream audience.

Lolita memarodikan genre film Romance di film bioskop yang pada saat itu, bahkan hingga saat ini, banyak menampilkan kisah cinta antara sepasang kekasih yang keduanya merupakan orang dewasa dengan perbedaan umur yang wajar dan tidak terpaut jauh, dan keduanya menjalani hubungan yang sehat didasari dengan konsensus satu sama lain meski mengalami konflik di film tersebut.

Lain halnya dengan Lolita — di film itu, seorang pria paruh baya diceritakan sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan remaja awal, dan laki-laki tersebut bersedia melakukan segalanya untuk bisa bersama dengan perempuan tersebut.

Kisah cinta antara Humbert dan Dolores digambarkan sebagai hubungan yang tidak sehat dan abusive, manipulatif, dan penuh ketabuan — jauh berbeda dari penggambaran kisah cinta yang ada dalam film bergenre Romance pada umumnya.

Pertengkaran antara Dolores dengan Humbert karena Dolores mencoba melarikan diri darinya

Kecemburuan Humbert yang timbul karena Dolores berbincang-bincang dengan laki-laki lain di pom bensin

Sang tokoh lelaki, Humbert, seorang laki-laki paruh baya dengan kelainan Hebefilia yang memiliki ketertarikan pada remaja awal, menikahi seorang perempuan agar bisa mendekati anaknya; ia adalah seorang laki-laki pencemburu, insecure, manipulatif, melakukan kekerasan verbal dan kekerasan fisik pada Dolores, bersedia untuk melakukan apa saja agar ia bisa mendapatkan apa yang ia mau, dan tak henti-hentinya membujuk Dolores demi kepuasan pribadinya.

Sang tokoh perempuan, Dolores, seorang anak perempuan berusia 14 tahun yang menjalin hubungan dengan suami dari ibunya; seorang remaja yang pemberontak, manipulatif, mengetahui kelemahan dan ketakutan dari Humbert dan memanfaatkannya untuk keuntungan pribadinya dan mendapatkan apa yang ia mau dari Humbert.

Humbert yang sedang cemburu menanyai secara paksa siapakah laki-laki lain di hati Dolores yang membuatnya ingin kabur dari Humbert

Dolores yang memanipulasi Humbert dengan menggunakan seks sebagai “senjata”-nya

Dua tokoh utama dari film Lolita tersebut tidak hanya memparodikan genre Romance yang selama ini banyak diketahui oleh khalayak luas, melainkan juga notion bahwa karakter utama di suatu film harus menjadi karakter yang disukai oleh penonton — terbukti bahwa kedua tokoh utama di atas merupakan dua individu yang menurut kompas moral universal merupakan individu yang tidak baik dan saling menyakiti satu sama lain, sehingga sulit untuk menyukainya dan penonton pun tak serta merta mendukungnya.

Kesemua unsur ironi tersebut digambarkan secara ekstrem, dengan cerita yang disturbing dan tidak umum dan juga penggambaran visual dari yang ingin diparodikan.

Tidak hanya sampai di situ saja, Lolita juga menampilkan objektifikasi dan eksploitasi tubuh perempuan. Akan tetapi bukan hanya sekedar objektifikasi dan eksploitasi tubuh saja, Lolita sebagai film bergenre postmodern menampilkan kedua hal tersebut dalam filmnya sebagai ironi yang bertujuan untuk memparodikan objektifikasi dan eksploitasi tubuh perempuan yang banyak dilakukan pada motion pictures atau film.

Objektifikasi dan eksploitasi tubuh tersebut dihadirkan pada film tersebut dengan objek seorang anak perempuan remaja awal yang berusia 14 tahun dengan badan yang masih belum berkembang secara sempurna, alih-alih mengeksploitasi tubuh dari seorang wanita dewasa dengan lekuk-lekuk tubuhnya. Eksploitasi tubuh yang memanfaatkan kepolosan dari remaja lah yang ditampilkan, alih-alih eksploitasi tubuh yang memanfaatkan kematangan fisik dari seorang wanita dewasa.

Objektifikasi dan eksploitasi tubuh Dolores yang merupakan seorang anak berusia 14 tahun melalui tingkah lakunya yang jauh lebih "dewasa" dibandingkan umurnya serta melalui pakaian yang dikenakan Dolores sepanjang film

Objektifikasi perempuan yang disampaikan melalui narasi visual berupa interaksi antara Humbert dengan Dolores

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa dalam film Lolita tidak hanya terdapat unsur postmodernisme saja, melainkan juga terdapat unsur feminisme di dalamnya.

Seperti yang ditunjukkan pada gambar ketiga saat audiens melihat Dolores dari sudut pandang Humbert misalnya, di situ diperlihatkan adegan Dolores dengan bajunya yang transparan karena basah, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh remajanya dan juga pakaian dalamnya; semuanya dari pandangan Humbert.

Hal tersebut menampilkan konsep male gaze yang dicetuskan oleh Laura Mulvey (2003) di mana karya visual menampilkan visual pleasure bergantung pada desire atau keinginan yang dimiliki oleh audiens laki-laki; seakan-akan mengeliminasi dan mengalienasi konsep desire pada audiens perempuan dan dianggap tidak ada, sehingga objektifikasi dan eksploitasi tubuh perempuan kentara  adanya dalam adegan-adegan film.

Film Lolita memarodikan film-film mainstream dengan male gaze-nya yang bertebaran. Namun seperti yang telah dibahas di atas, kali ini bukan pada wanita dewasa melainkan pada seorang remaja berusia 14 tahun — sehingga film Lolita berhasil memporak-porandakan male gaze dan visual pleasure yang terlanjur "nyaman" di mata mainstream audience.

Dalam film Lolita, terdapat banyak unsur-unsur ironi yang ternyata merupakan ciri-ciri dari film bergenre postmodern yang mana cukup banyak dipengaruhi oleh novel aslinya. Film tersebut menampilkan parodi dari genre yang selama ini banyak dikonsumsi oleh khalayak umum, yakni Romance, dengan kedua karakter utama dan hubungannya yang jauh dari kata sehat dan “normal” di mata mainstream audience.

Selain itu, penggambaran objektifikasi dan eksploitasi tubuh perempuan serta konsep male gaze dalam film tersebut disajikan secara ekstrem dan "tidak normal"; seakan-akan ingin menampilkannya secara berlebihan dan dengan sengaja sebagai bentuk pengejawantahan dari ironi itu sendiri.

-

Referensi


  • Booker, M. Keith. 2007. Postmodern Hollywood: What's New in Film and Why It Makes Us Feel So Strange. California: Greenwood Publishing Group.
  • Lyne, Adrian (Sutradara). 1997. “Lolita” [film] 137 menit.
  • McHale, Brian. 1986. “Change of Dominant from Modernist to Postmodernist Writing” dalam Approaching Postmodernism: Paper yang dipresentasikan pada Workshop on Postmodernism, 21-23 September 1984, University of Utrecht. (21). Amsterdam: John Benjamins Publishing.
  • Mulvey, Laura. 2003. “Visual Pleasure and Narrative Cinema” dalam The Feminism and Visual Culture Reader. 44-53.
  • Nabokov, Vladimir. 1989. Lolita. New York: Vintage International.
  • Prince, Stephen. 2004. The Horror Film. New Jersey: Rutgers University Press.
  • Sim, Stuart. 2013. The Routledge Companion to Postmodernism. London: Routledge.
  • Stam, Robert. 2000. Film Theory. Oxford: Blackwell.
  • Taylor, Victor E. dan Charles E. Winquist. 2002. Encyclopedia of Postmodernism. London: Routledge.

-

P.S. This was an old work from my 6th semester in mid-2017.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...