Perbedaan Reaksi dan Persepsi Laki-Laki Heteroseksual dan Biseksual terhadap Waria dan Representasinya dalam Film Pendek Sebut Saja Bella (2016)

1:01 AM


Di kalangan masyarakat, berbagai stigma terhadap waria sejatinya sudah tak bisa dipungkiri, terlepas dari apakah itu stigma yang baik maupun stigma yang buruk. Tentunya ada perbedaan pendapat mengenai bagaimana tiap-tiap bagian dari masyarakat mempersepsikan bagaimana waria terlihat di mata mereka, terutama mengenai representasi waria di produk budaya seperti film.

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi maupun reaksi subjek penelitian — yang dibagi menjadi dua kategorisasi menurut seksualitas atau orientasi seksual mereka — mengenai waria dan representasinya di dalam film. Peneliti kemudian memilih sebuah film pendek yang berjudul Sebut Saja Bella untuk mendukung penelitian ini, karena waria menjadi fokus utama dari film tersebut.


Sebut Saja Bella adalah sebuah film yang ditulis dan disutradarai oleh Ridho Isbandi. Film yang dirilis pada tahun 2016 itu menceritakan tentang kehidupan seorang waria (wanita-pria) bernama Bella yang merupakan tokoh utama di dalam film. Ia diperlakukan secara tidak pantas dan menjadi korban kekerasan fisik dan kekerasan seksual oleh ayah tirinya yang abusive. Karakter di film Sebut Saja Bella diperankan oleh tiga aktor, yaitu Ahmad Pramuja, Ridho Isbandi, dan Tri Wibowo. Narasi dalam film tersebut disampaikan oleh tokoh utama yang bermonolog tentang kehidupannya, layaknya narator.

Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil 4 subjek penelitian; 2 di antaranya merupakan bagian dari LGBTQIA+ atau queer, sedangkan 2 sisanya memiliki orientasi seksual heteroseksual. Peneliti memilih 2 laki-laki dengan orientasi seksual heteroseksual dan 2 laki-laki dengan orientasi seksual biseksual.

Keempat subjek penelitian tersebut kemudian dipertontonkan Sebut Saja Bella secara utuh, karena keseluruhan adegan dalam film memang membahas tentang waria. Masing-masing kategori subjek penelitian diobservasi secara terpisah, dengan tiap-tiap subjek penelitian di dalam satu kategori diobservasi secara bersamaan. Peneliti kemudian melakukan observasi dan mencatat seluruh reaksi subjek penelitian seiring mereka menonton film tersebut, baik reaksi verbal seperti komentar-komentar yang mereka sampaikan maupun reaksi nonverbal seperti ekspresi wajah dan body language.

Dari data yang didapat, peneliti lalu membandingkan kedua data yang diperoleh dari subjek penelitian dengan dua kategorisasi yang berbeda dan melihat apakah terdapat perbedaan yang mencolok pada persepsi dan reaksi mereka terhadap waria dan representasinya di film Sebut Saja Bella.

Berdasarkan observasi peneliti, terdapat perbedaan yang mencolok atas reaksi dan persepsi terhadap waria dan representasinya dalam film Sebut Saja Bella di antara kedua kategori subjek penelitian.

Dari ekspresi wajah sepanjang film, subjek penelitian heteroseksual cenderung datar dan sesekali tersenyum. Sedangkan ekspresi wajah pada subjek penelitian biseksual sepanjang film lebih serius dengan alis dan mata mengernyit serta mulut sedikit cemberut. Tubuh subjek penelitian heteroseksual cenderung diam dan tidak banyak bergerak selama menonton film, sedangkan pada subjek penelitian biseksual tubuhnya lebih banyak bergerak dan membetulkan posisi diri. Ketika ditanya mengapa, mereka bilang bila menonton film ini membuat mereka merasa tidak nyaman dan gelisah.

Pada subjek penelitian heteroseksual, mereka lebih banyak membahas mengenai eksistensi waria itu sendiri dan menyambungkannya dengan waria di kehidupan nyata. Mereka banyak mengomentari penampilan fisik dari waria yang ditampilkan dalam film Sebut Saja Bella. Contohnya adalah mengomentari bahwa pemeran waria di film tersebut berbadan kekar dan macho, serta tidak gemulai. Mereka juga beberapa kali tertawa saat menonton film sambil terus mengomentari penampilan fisik waria tersebut. Selain itu, mereka memposisikan waria sebagai pihak yang disalahkan dan mengamini bahwa orientasi seksual maupun seksualitas “di kebanyakan kasus” dapat berubah karena menjadi korban kekerasan seksual maupun trauma. Subjek penelitian heteroseksual sama sekali tidak membahas mengenai latar belakang kultural yang berkontribusi pada representasi waria dalam film Sebut Saja Bella yang seperti itu.

Sedangkan pada subjek penelitian biseksual, mereka banyak membahas mengenai latar belakang kultural dalam masyarakat Indonesia yang menyebabkan bagaimana akhirnya waria direpresentasikan dalam film Sebut Saja Bella. Mereka menganggap bahwa representasi waria dalam film tersebut tidak akurat, terutama di bagian mengenai orientasi seksual atau seksualitas yang berubah hanya karena dia menjadi korban kekerasan seksual dan mengalami trauma. Subjek penelitian biseksual sama sekali tidak mengomentari tentang penampilan fisik dari waria yang ditampilkan dalam film dan juga sama sekali tidak tertawa sepanjang film. Selain itu, mereka juga menganggap bahwa representasi waria dalam film tersebut justru akan memperkuat stigma-stigma yang ada dalam masyarakat mengenai waria, utamanya tentang orientasi seksual atau seksualitas yang dengan mudahnya berubah karena mengalami kekerasan seksual tadi.

Dari observasi yang sudah dilakukan peneliti tentang reaksi dan persepsi laki-laki heteroseksual dan biseksual terhadap waria dan representasinya dalam film Sebut Saja Bella di atas, bisa diketahui bahwa memang terdapat perbedaan yang mencolok di antara subjek penelitian yang sebelumnya telah dibagi menjadi dua kategorisasi sesuai orientasi seksualnya.

Subjek peneliti heteroseksual lebih banyak membahas penampilan fisik waria dalam film, sedangkan subjek peneliti biseksual lebih banyak membahas latar belakang kultural masyarakat Indonesia mengenai representasi waria dalam film.

You Might Also Like

2 comments

  1. untuk gue gk diajak nonton untuk bahan penelitian ini, kalo iya bisa anomali tuh penelitian :p

    ReplyDelete

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...