Online Infotainment dan Anonimitas: Body-Shaming (Penyerangan Fisik) dalam Akun Haters Awkarin @ewhkarindrama_ di Media Sosial Instagram

11:23 AM


Secara harfiah, istilah “infotainment” merujuk pada kombinasi kata “information” yang bermakna “informasi” dan kata “entertainment” yang bermakna “hiburan”, sehingga infotainment sendiri menurut Cambridge English Dictionary merupakan penyiaran suatu berita yang bertujuan untuk menginformasikan dengan cara-cara yang tidak mengesampingkan aspek hiburan dan juga komedi.

Infotainment dapat dicermati dari berbagai ciri khasnya, seperti topik yang kebanyakan membahas selebritis terkenal, konten dan judul yang provokatif, editing yang “tajam”, serta sensasional. Akurasi, kode etik, dan cara penyampaian informasi yang to the point sebagai sebuah berita pun seringkali diabaikan, sebab ceritera berupa narasi dengan pembahasaan dan efek suara melodramatislah yang menjadi fokus utama dalam infotainment (Anderson, 2004: x-xi). Karena bersifat menghibur inilah pada akhirnya para audiens lebih menggemari infotainment dibanding berita (Ibid: xi).

Dikutip dari buku yang berjudul News Flash: Journalism, Infotainment and the Bottom-Line Business of Broadcast News (Ibid: xiii), media yang paling banyak memuat infotainment pada saat ini adalah televisi atau TV.

Infotainment yang begitu cepat meningkatkan rating merupakan sebuah kabar baik untuk korporasi media dan kabar buruk untuk jurnalisme.

Dua pertiga dari seluruh jurnalis di Amerika Serikat mengaku bahwa media tempat mereka bekerja makin lama makin didorong untuk mengimplementasikan teknik pemberitaan dengan gaya infotainment dengan harapan dapat meningkatkan jumlah audiens (Ibid: 21) yang berujung pada peningkatan rating dan peningkatan pengkilan pula, sehingga meningkatkan pendapatan media secara keseluruhan.

Hal ini membuktikan bahwa khalayak luas lebih senang dengan infotainment yang dikemas dengan menarik sehingga lebih ringan dan menghibur. Contoh dari acara-acara infotainment yang digemari audiens adalah acara gosip tentang selebritis terkenal yang mengulik soal skandal dan kehidupan pribadi mereka.

Di Indonesia sendiri, keadaan tidak jauh berbeda. Tayangan-tayangan infotainment yang sejenis dianggap mampu meraup jumlah viewership paling tinggi dengan cara paling mudah. Menurut Remotivi, sebuah lembaga studi dan pemantauan media di Indonesia, acara gosip memang menjadi acara kesukaan penonton TV di Indonesia selain sinetron terutama acara gosip tentang artis (Widodo, 2016).

Dan memang benar; salah satu acara gosip Indonesia yang tayang di channel RCTI yang banyak membahas tentang artis-artis, Silet, memenangkan penghargaan Panasonic Gobel Awards pada tahun 2016 sebagai acara infotainment terfavorit (Panasonic Gobel Awards, 2016). Panasonic Gobel Awards sendiri merupakan suatu ajang penghargaan tahunan terkenal di Indonesia yang telah dilaksanakan selama 18 tahun untuk program/acara televisi dan yang terkait.

Tayangan televisi yang dinilai terlalu mengejar rating, salah satunya adalah acara gosip artis itu sendiri, merupakan sebuah problematika yang tengah dihadapi Indonesia dalam rangka menyediakan konten yang bermutu dan mendidik untuk khalayak Indonesia.

Dilansir dari Liputan6.com, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pun meminta agar tayangan televisi selain berita tidak hanya sekedar mengejar rating namun diharapkan untuk dapat meningkatkan mutu dan kualitas tayangannya agar bisa mendidik (Rimadi, 2015).

JOURNALISM VS. INFOTAINMENT

Berdasarkan kode etik jurnalistik yang disusun oleh Dewan Pers Indonesia dan diterapkan pada tahun 2008, banyak aspek yang seringkali dilanggar oleh infotainment terutama yang mengangkat konten gosip.

Pertama-tama adalah pasal 1 yang berbunyi, “wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.”

Berdasarkan pedoman penafsiran, akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. Padahal infotainment seringkali mengabaikan aspek akurasi itu sendiri; ketika suatu rumor baru bersifat rumor dan belum dikonfirmasi kebenarannya seringkali acara-acara gosip sudah menyiarkannya ke khalayak luas.

Yang kedua adalah pasal 3 yang berbunyi, “wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.”

Berdasarkan pedoman penafsiran, menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi tersebut. Sedangkan seperti yang telah disebutkan di atas, kebenaran akan suatu informasi seringkali dikesampingkan demi menayangkan konten yang sensasional dan mementingkan kecepatan diseminasi informasi itu sendiri tanpa mengecek fakta yang ada terlebih dahulu.

Hal inilah yang disebutkan oleh Anderson (2004: x-xi) bahwa infotainment, terutama acara gosip, seringkali melanggar kode etik karena memang bukan itu fokus dan tujuan utama dari acara tersebut. Mereka hanya peduli akan sensasionalitas dari suatu “berita” agar menarik banyak khalayak, menaikkan rating, dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya sebagai bagian dari korporasi media.

NEW MEDIA AS A NEW MEANS AND A NEW FORM OF INFOTAINMENT

Media baru tidak akan pernah ada tanpa ditemukanya komputer dan internet — dua teknologi komunikasi yang saling berkaitan dan menjadi titik awal dari suatu era yang bernama the age of information (Pavlik, 1996: 37).

Era ini memungkinkan setiap orang yang memiliki akses internet untuk mendapatkan segala jenis informasi yang mereka mau dengan cepat; internet diibaratkan sebagai jalan tol di mana semua hal berjalan dengan sangat cepat, yang disebut dengan information highway (Ibid: 35) atau information superrailroad (Ibid: 46) yang diibaratkan bahwa segala informasi di internet bak kereta super cepat. Informasi pun dapat didapatkan oleh audiens secara amat cepat, bahkan real-time.

Media lama seperti koran, televisi, radio, majalah, dan buku yang memiliki kecepatan relatif lebih lambat dibanding media baru pun mendapat dampak negatif dari keberadaan media baru, salah satunya adalah berkurangnya jumlah audiens dan melambannya laju industri media lama secara keseluruhan — para ilmuwan bahkan menyebutnya sebagai “Mediasaurus”, mengibaratkan media lama sebagai sesuatu dari zaman prehistoris bila dibandingkan dengan media baru (Ibid: 54).

Mau tak mau, media tersebut harus terus berubah, beradaptasi, dan mengikuti perkembangan zaman agar dapat terus bertahan, jauh dari kata stagnansi, dan tidak punah (Ibid: 44).

Dalam artikelnya, Friedman dan Friedman (2013: 6) berkata bahwa internet mengawali suatu fenomena yang dinamakan konvergensi, yang memiliki arti harfiah “pertemuan di suatu titik”.

Konvergensi sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut perpaduan berbagai jenis media menjadi satu di internet. Mulai dari radio yang menyajikan audio, televisi yang menyajikan audio visual berupa video, hingga majalah dan koran yang menyajikan konten tertulis dengan gambar — semuanya dapat ditemukan di internet.

Dengan adanya internet terutama kemunculan media sosial, konvergensi media pun tak dapat dihindari lagi. Hal ini yang memarakkan digitalisasi media dan berlomba-lomba merangkul audiens dengan cara memanfaatkan internet sebagai media; tak terkecuali infotainment.

Krishnan dan Atkin (2014: 113-117) meneliti motivasi penggunaan media sosial beserta aktivitas yang dilakukan di media sosial pada 674 mahasiswa sebuah universitas negeri terkemuka di Amerika Serikat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa salah satu dari tiga motivasi utama objek penelitian menggunakan media sosial adalah untuk mencari infotainment. Dua motivasi lainnya adalah untuk menghabiskan waktu luang dan sebagai sarana konformitas sosial — menggunakan media sosial karena lingkungan dan peers juga menggunakan media sosial.

Kecepatan persebaran informasi yang begitu cepat di internet turut berkontribusi atas menjamurnya infotainment yang menyebar luas di dunia maya, utamanya yang berkaitan dengan gosip, karena kecepatan persebaran informasi inilah masyarakat sering lalai untuk melakukan kroscek terhadap berbagai informasi yang mereka lihat.

Mereka dengan cepat pula memencet tombol “share” yang akan membagikan informasi tersebut ke pengikut atau followers mereka sehingga memicu reaksi beruntun dan menyebarkan informasi tersebut dengan sangat cepat walau dengan akurasi sangat rendah sekali pun, bahkan hoax.

Hal ini yang berpotensi menyebabkan oversaturation dari informasi yang bercampur-aduk, antara yang akurat dan yang tidak.

Selain itu, di internet semua orang bisa mem-publish konten mereka sendiri sesuai yang mereka inginkan; sehingga sekarang konten-konten dengan muatan gosip tidak hanya terbatas pada awak media dengan lisensi acara gosip saja, melainkan seluruh pengguna dunia maya dapat ambil andil dalam diseminasi informasi tersebut.

Tidak hanya itu saja, aspek anonimitas di internet semakin membebaskan semua pihak untuk menyebarkan informasi apa saja, terlepas itu benar atau salah, tanpa ada rasa takut akan ketahuan siapa yang menyebarkan kabar tersebut karena mereka bisa berlindung di balik anonimitas tersebut.

ANONIMITY: THE DOUBLE-EDGED SWORD OF THE INTERNET

Seperti yang telah disinggung di atas, infotainment berkembang subur di era digital seperti sekarang melalui new media atau internet dan platform media sosial; hal tersebut bisa terjadi karena internet memiliki salah satu sifat dasar, yakni anonimitas.

Salah satu dari beberapa karakteristik Internet adalah ketiadaan dari sense of place yang mana kemunculan konsep no sense of place tersebut membedakannya dengan komunikasi tatap muka di dunia nyata atau Face to Face Communication. Artinya, komunikasi terjadi di suatu ruang virtual yang menyediakan konsep anonimitas, sehingga memungkinkan terjadinya multiplikasi peran dan jati diri dari tiap-tiap penggunanya (Tambyah dalam Narwoko, 2004, hal. 405).

Karena walau Internet mampu membuat interaksi terjadi secara real-time, kenyataannya secara raga penggunanya masih tetap dibatasi oleh ruang dan waktu — tidak ada kehadiran dari pengguna internet secara fisik di dunia nyata — yang kemudian menyebabkan adanya no sense of place tadi, menyebabkan kurangnya tanda dan lambang dalam proses komunikasi melalui dunia virtual atau internet yang dapat diklasifikasikan sebagai komunikasi yang dimediasi oleh komputer, atau disebut dengan Computer Mediated Communication atau biasa disingkat dengan CMC.

Anonimitas didukung oleh fakta bahwa dalam internet dan CMC, terdapat kekurangjelasan tanda-tanda non-verbal yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas seseorang di internet secara jelas. Hal ini bisa memberikan kesempatan bagi pengguna Internet untuk membangun persona yang benar-benar baru dan berbeda dengan identitas mereka di dunia nyata (Donath, 1998: hal. 46).

THE RISE OF INDONESIAN INSTAGRAM INFOTAINMENT

Oleh karena infotainment semakin mudah untuk diakses dan ditemui di dunia maya hingga menjadi salah satu motivasi utama untuk mengakses media sosial (Krishnan dan Atkin, 2014: 113-117), tak heran bila aktivitas gosip-menggosip pun merambat pada ranah media sosial. Di situ, setiap orang bisa dengan bebas mengutarakan apa pun yang mereka mau hampir tanpa hambatan. Mereka bisa dengan cepat pula menyebarkan suatu isu dan/atau gosip pada sesama pengguna media sosial.

Berbagai platform yang tersedia dapat digunakan sebagai sarana diseminasi informasi hal-hal yang terkait dengan infotainment, terutama soal gosip. Dari sekian banyak media sosial yang ada, salah satu yang paling terkenal di kalangan netizen Indonesia adalah media sosial yang bernama Instagram. Instagram adalah sebuah media sosial yang merupakan platform untuk berbagi berbagai konten visual.

Instagram sendiri berfokus pada fitur berbagi foto dan video, melalui aplikasi dalam smartphone pada berbagai sistem operasi. Instagram juga dapat diakses melalui situsnya dengan web browser, tetapi untuk mendapatkan berbagai fitur yang ditawarkan secara utuh, seperti untuk mengunggah konten baru berupa post gambar atau video, pengguna harus tetap mengaksesnya melalui aplikasi di smartphone.

Dilansir dari Jakarta Globe, Kantar TNS dalam laporannya yang berjudul Connected Life menyatakan bahwa berbagai platform untuk berbagi konten visual semakin lama semakin populer. Bahkan pada tahun 2016, jumlah pengguna Instagram di Indonesia sendiri mengalami lonjakan userbase yang signifikan, dengan basis pengguna yang berjumlah hingga dua kali lipat sejak tahun 2014 (Siniwi, 2016).

Berdasarkan sebuah survei yang dilaksanakan oleh JakPat (Jajak Pendapat) pada bulan Januari tahun 2016 dan kemudian dihimpun oleh eMarketer.com, dapat diketahui bahwa hampir 70% dari seluruh responden survei yang berusia antara 16-35 tahun di Indonesia, yang mana merupakan rentang usia dari generasi milenial, menggunakan media sosial Instagram dalam kegiatan sehari-harinya.



Awal mula akun-akun bertema infotainment yang membahas tentang gosip-gosip artis dalam negeri bertumbuh subur bisa dilacak ke belakang pada saat akun Instagram yang bernama @lambe_turah menjadi viral di dunia maya dan pada akhirnya banyak disebut pada tayangan infotainment di televisi.

Akun tersebut terkenal dengan informasinya yang up-to-date mengenai gosip yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan skandal selebritis di Indonesia. Tak jarang informasi yang dipublikasikan di akun tersebut didapatkan dari kiriman pengikutnya. Berbagai macam informasi mulai dari yang fakta, masih berupa dugaan atau spekulasi, hingga fitnah atau informasi yang salah sekalipun ada di akun tersebut. Setelah fenomena akun @lambe_turah yang viral dan banyak dikutip oleh acara-acara gosip di televisi hingga di berbagai media cetak, akun-akun infotainment dengan tujuan bergosip pun makin menjamur.

Tidak hanya akun gosip, akun haters atau pembenci pihak atau selebritis tertentu juga kian hari kian banyak. Mulai dari sekedar haters artis yang memang sudah populer di layar kaca Indonesia, hingga haters mereka yang terkenal di media sosial dan memiliki julukan tersendiri sesuai media sosial mereka yang paling dikenal (misalnya: terkenal di Instagram maka julukannya adalah selebgram, terkenal di Twitter maka julukannya adalah selebtwit, terkenal di Ask.fm maka julukannya adalah selebask, dan lain sebagainya).

AWKARIN: INDONESIA’S MOST CONTROVERSIAL TEENAGE INTERNET STAR, BOTH HATED AND LOVED BY MILLIONS

Awkarin adalah pseudonym dari seseorang yang bernama asli Karin Novilda. Perempuan tersebut mengaku dalam kehidupan sehari-harinya ia biasa dipanggil Karin, sedangkan nama Awkarin sendiri adalah panggilan untuknya di khalayak yang berasal dari username akun Instagram-nya.

Akun Instagram Awkarin sendiri hingga pada saat artikel ini ditulis memiliki hampir 2 juta pengikut, lebih tepatnya 1,8 juta pengikut. Karena jumlah pengikutnya yang banyak dan terkenal di jagat raya internet itulah yang membuatnya dijuluki sebagai “selebgram” yang merupakan akronim dari “selebriti Instagram”.


Sebagai perbandingan, selebgram Indonesia lain yang merupakan teman Awkarin (tergabung dalam satu manajemen bakat yang sama), Anya Geraldine (@anyageraldine), “hanya” memiliki 732 ribu pengikut — kurang dari setengah jumlah total pengikut Awkarin.

Tidak hanya di media sosial Instagram, Awkarin juga meraih kepopuleran di berbagai media sosial lain seperti YouTube, Twitter, dan Ask.fm.

Awkarin dikenal oleh netizen Indonesia sebagai remaja yang kontroversial — perempuan kelahiran tahun 1997 tersebut kerap dicibir karena konten dan pakaiannya yang dianggap terlihat provokatif, dianggap sering mengumbar aurat, gaya hidup dan gaya pacarannya yang dianggap terlalu bebas dan tidak sesuai dengan “budaya ketimuran” Indonesia, sering menuliskan dan/atau mengatakan kata-kata kasar, banyak mengunggah konten yang bernuansa seksual dan bersifat eksplisit, membuat lagu dengan lirik tidak mendidik, hingga perilakunya yang tidak mencerminkan agama yang dianutnya, menurut kabar yang beredar dan agama anggota keluarganya yang mana adalah agama Islam, seperti mengonsumsi babi dan memelihara anjing.


Terakhir kali netizen mengomentari soal Awkarin adalah karena ia melakukan filler untuk memancungkan hidung dan menebalkan bibir, oleh netizen Awkarin dianggap telah merubah ciptaan Tuhan dan mengatainya bahwa ia adalah orang yang “fake” atau “palsu”.

Awkarin tergabung dalam suatu manajemen bakat yang dinamakan TAKIS Entertainment. Diketahui bahwa salah satu petinggi perusahaan tersebut, yakni sang owner, adalah mantan pacar dari Awkarin.

Dalam kegiatan sehari-harinya yang ditampilkan di Instagram dan YouTube, Awkarin terlihat hampir setiap hari berkumpul bersama sesama anggota yang tergabung dalam manajemen TAKIS Entertainment. Ia sering mengunggah foto dan video bersama teman-teman satu manajemennya baik itu di akun Instagram maupun akun YouTube-nya. Tak jarang teman-temannya tersebut ikut menjadi sasaran celaan dan hujatan netizen karena netizen menganggap bahwa mereka berperilaku sama buruknya dan sama kontroversialnya dengan Awkarin. Terbukti bahwa Anya Geraldine, salah satu temannya, pun sempat mendapatkan kritikan atas video yang diunggahnya di YouTube saat berlibur dengan pacarnya di Bali.

Netizen juga sering menganggap bahwa Awkarin dan teman-temannya turut berkontribusi dalam perusakan moral bangsa dan generasi penerus Indonesia bila dilihat dari komentar-komentar yang ditinggalkan di foto-fotonya, terutama di foto-fotonya yang kontroversial.

Saking banyaknya yang mengeluhkan aktivitas Awkarin di dunia maya, Awkarin pun sempat dipanggil oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pada bulan September tahun 2016 (Hendrian, 2016). Hal tersebut dilakukan untuk menyikapi keluhan-keluhan masyarakat soal konten-konten yang diunggah oleh Awkarin yang dianggap tidak memiliki unsur mendidik, mengandung unsur negatif, dan berdampak kurang baik pada pengikutnya di Instagram.

Meski begitu, tak sedikit yang tanpa henti mengidolakan Awkarin. Berbagai komentar-komentar positif yang mendukung Awkarin dan menyatakan kekagumannya terhadap Awkarin tetap dapat ditemukan di berbagai akun media sosial miliknya, mulai dari Instagram hingga YouTube, dan seringkali dalam jumlah banyak.

THE EMERGENCE OF AWKARIN “HATERS” ACCOUNTS

Berbekal rasa jengah, risih, jengkel, dan rasa marah mereka terhadap perilaku Awkarin yang dinilainya membawa dampak buruk bagi generasi penerus Indonesia dan merusak moral bangsa, netizen pun pada akhirnya menyalurkan kebenciannya terhadap sesosok Awkarin dalam bentuk akun “haters” (yang berarti “pembenci” dalam bahasa Indonesia) di mana mereka bisa mengunggah segala macam konten yang berisi cibiran dan hujatan yang menjelek-jelekkan Awkarin secara bebas karena mereka berlindung di balik anonimitas internet.

Akun-akun sejenis banyak ditemukan di Instagram, karena ia merupakan platform tempat berbagi konten visual dan kebanyakan akun haters mengunggah kembali foto yang diunggah oleh Awkarin di Instagram lalu di caption foto baru dituliskan ujaran-ujaran yang menyatakan ketidaksukaannya pada Awkarin.

Selain itu, mereka juga seringkali mengunggah konten-konten yang menggunjingkan Awkarin, update terbaru soal Awkarin berdasarkan rumor-rumor yang beredar, dan berspekulasi layaknya infotainment dan acara gosip; bedanya adalah akun-akun sejenis beroperasi di media sosial. Sehingga akun-akun haters semacam ini dapat dikategorikan sebagai infotainment yang ditemukan di dunia maya.

Pada tahun 2016, Awkarin sempat membuat keributan karena ia mengancam untuk melaporkan pemilik akun-akun haters tersebut ke polisi karena pencemaran nama baik dan ia mengaku telah melacak keberadaan sang empunya akun-akun tersebut.

Sejak peristiwa itu jumlah akun haters Awkarin bukannya semakin berkurang, namun makin lama malah makin bertambah. Hingga saat tulisan ini dibuat, beberapa dari akun haters Awkarin yang dapat ditemui di Instagram di antaranya adalah:

  • @awkarinjadul_reborn
  • @iwkarin
  • @takis_jadul_
  • @ewkarinnn.masihada
  • @ewhkarindrama_
  • @awewkarin

Penulis akan membahas salah satu dari akun haters Awkarin di atas, yakni @ewhkarindrama_, dengan alasan akun tersebut hingga saat tulisan ini dibuat merupakan akun yang paling aktif dan paling sering meng-update info-info terbaru tentang Awkarin.

Selain itu, akun ini kebanyakan menyerang fisik atau body-shaming Awkarin baik itu melalui foto/video yang diunggahnya maupun melalui tulisan atau caption dari post tersebut. Aktivitas di akunnya yang cukup tinggi dan pemanfaatan sifat anonimitas di internet untuk mengoperasikan akun sejenis inilah yang membuat penulis memilih akun tersebut sebagai objek untuk studi kasus infotainment dan anonimitas dalam tulisan ini.

@EWHKARINDRAMA_: A SELF-PROCLAIMED HATER ACCOUNT

@ewhkarindrama_ adalah salah satu dari sekian banyak akun-akun haters Awkarin yang melenggang bebas di Instagram. Jumlah pengikut akun tersebut tergolong cukup banyak, yakni sekitar 7.719 pengikut hingga tulisan ini dibuat.

Akun tersebut cukup aktif mem-post foto-foto yang berkaitan dengan Awkarin dan segala hal yang berhubungan dengannya dengan frekuensi cukup sering dan hampur setiap hari; hingga saat ini jumlah foto/video yang ada di akun mereka mencapai 608 posts.


Bio akun @ewhkarindrama_ yang berbunyi, “kok kita ngehate? Karna TERLALU BENCI,” menunjukkan bahwa akun tersebut memang mengakui dirinya adalah salah satu dari akun haters yang tujuannya untuk mem-post hal-hal yang berhubungan dengan Awkarin dan pihak-pihak yang berkaitan dengan alasan terlalu benci pada Awkarin.

Foto profil yang dipakai menggunakan salah satu foto Awkarin yang terlihat tidak fotogenik sehingga terlihat cukup menyeramkan di mata rata-rata orang; mungkin citra itulah yang berusaha ditampilkan pemilik akun tersebut — menggiring opini publik sejak pandangan pertama.

Selain foto profil, akun ini juga banyak mengunggah foto/video Awkarin yang dari sisi fotogenik terlihat kurang baik dan terlihat seperti suatu kesengajaan. Selain itu, biasanya dilengkapi dengan tulisan atau caption yang provokatif untuk memancing komentar-komentar yang mengujarkan kebencian pula.

Akun ini juga banyak mengunggah post yang mengarah ke penyerangan fisik atau body-shaming ke berbagai bagian tubuh yang dimiliki Awkarin, mulai dari wajah hingga kaki, bahkan hingga melakukan body-shaming tersebut ke teman-temannya.

Utamanya karena aspek yang telah disebutkan di atas sebelumnya, yakni Awkarin yang melakukan filler untuk memancungkan hidung dan menebalkan bibir. Awkarin pun dianggap telah merubah ciptaan Tuhan dan mengatainya bahwa ia adalah orang yang “fake” atau “palsu”.



Dua contoh di atas hanyalah segelintir dari banyak foto/video yang bertebaran di akun tersebut yang melakukan penyerangan fisik terhadap Awkarin dan pihak-pihak terkait, namun dapat memberikan gambaran bagaimana mereka melakukan body-shaming terhadap pihak yang tidak mereka sukai sebagai pergunjingan dan luapan kebencian mereka.

THE BASHING CULTURE

Di era informasi seperti ini, internet seperti menjadi candu bagi mereka yang gemar dengan infotainment di media sosial, terutama dengan model akun-akun haters semacam ini. Beberapa dari mereka yang berkomentar sangat buruk dan turut melakukan body-shaming terhadap Awkarin dan teman-temannya, menggunakan akun-akun palsu yang mereka buat sebagai alter ego mereka khusus untuk aktivitas-aktivitas media sosial yang tidak ingin diketahui siapa pun tanpa diketahui identitasnya pula.

Lagi-lagi, anonimitas seperti menjadi tameng yang digunakan oleh pihak-pihak tersebut sebagai tempat berlindung agar mereka terbebas dari tanggung jawab dan konsekuensi atas apa yang mereka lakukan di dunia maya. Dengan adanya anonimitas, identitas para haters tersebut pun akan tetap anonim, hingga ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang bisa melacak keberadaan orang di balik akun haters tersebut.

Memang anonimitas dapat menguntungkan pengguna internet untuk terhindar dari kejahatan di internet atau cybercrime, tetapi ketika disalahgunakan maka internet dengan anonimitas hanyalah alat untuk memuaskan keinginan mereka membahas suatu figur publik berkedok infotainment tanpa adanya upaya tanggung jawab atas aktivitas mereka di dunia maya.

Saran dari penulis, untuk meminimalisir terjadinya multiplikasi persona di media sosial, salah satunya persona anonim yang dimanfaatkan untuk mem-post konten berisi infotainment yang mengandung unsur menarget atau menjatuhkan pihak tertentu secara tidak bertanggung jawab, Instagram sebagai suatu perusahaan harus memperkuat proses verifikasi identitas pengguna mereka di dunia nyata, misalnya merekam jejak IP pembuat akun tertentu dan tidak hanya mengandalkan email atau nomor telepon genggam saja.

-

Referensi:

Buku:
  • Anderson, Bonnie M. 2004. News Flash: Journalism, Infotainment and the Bottom-Line Business of Broadcast News. San Francisco: John Wiley & Sons.
  • Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2004. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.
  • Pavlik, John V. 1996. New Media Technology: Cultural and Commercial Perspectives. New York: Simon & Schuster.

Jurnal:
  • Donath, Judith S. 1999. “Identity and Deception in The Virtual Community”. Dalam Petter Kollock dan Marc A. Smith (Eds.), Communities in Cyberspace (hlm. 29-59). London: Routledge.
  • Friedman, Linda Weiser dan Hershey H. Friedman. 2013. “Using Social Media Technologies to Enhance Online Learning” dalam Journal of Educators Online. 10(1): 1-21.
  • Krishnan, Archana dan David Atkin. “Individual differences in Social Networking Site Users: The Interplay between Antecedents snd Consequential Effect on Level of Activity” dalam Computers in Human Behavior. 40: 111-118. Salt Lake City: Elsevier.

Internet:

  • Dewan Pers Indonesia. 2011. “Kode Etik Jurnalistik” dalam Dewan Pers Indonesia [internet] dari http://dewanpers.or.id/peraturan/detail/190/kode-etik-jurnalistik. Diakses pada 25 April 2017.
  • eMarketer. 2016. “In Indonesia, Facebook Remains the Most Popular Social Site” dalam eMarketer [internet] dari http://emarketer.com/Article/Indonesia-Facebook-Remains-Most-Popular-Social-Site/1014126. Diakses pada 25 April 2017.
  • Hendrian, Dedi. 2016. “KPAI dan Kominfo Adakan Pertemuan dengan Awkarin, Ini Hasilnya” dalam Komisi Perlindungan Anak Indonesia [internet] dari http://kpai.go.id/berita/kpai-dan-kominfo-adakan-pertemuan-dengan-awkarin-ini-hasilnya. Diakses pada 25 April 2017.
  • Instagram [internet] dari http://instagram.com. Diakses pada 25 April 2017.
  • Panasonic Gobel Awards. 2016. “Winners” dalam Panasonic Gobel Awards 2016 [internet] dari http://panasonicgobelawards.com/2016/Site/Winners. Diakses pada 25 April 2017.
  • Rimadi, Luqman. 2015. “Jokowi Minta Tayangan TV selain Berita Tak Hanya Kejar Rating” dalam Liputan 6 [internet] dari http://news.liputan6.com/read/ 2298990/jokowi-minta-tayangan-tv-selain-berita-tak-hanya-kejar-rating. Diakses pada 25 April 2017.
  • Siniwi, Ratri M. 2016. “More Than Half of Indonesia's Internet Users Are on Instagram” dalam Jakarta Globe [internet] dari http://jakartaglobe.id/news/half-indonesias-internet-users-instagram. Diakses pada 25 April 2017.
  • Widodo, Yohanes. 2016. “Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu” dalam Remotivi [internet] dari http://remotivi.or.id/amatan/286/Kuasa-Rating-dan-Tayangan-Tak-Bermutu. Diakses pada 25 April 2017.
-

Artikel ini ditulis pada 25 April 2017, hingga saat post ini diunggah di blog sudah banyak sekali perubahan data dan fakta di lapangan yang terjadi.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...