Setelah Cak Imin, Siapakah Doktor Honoris Causa UNAIR Selanjutnya?

8:40 PM


Sebagai bagian dari 'civitas academica' Universitas Airlangga (UNAIR), penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (Doktor Kehormatan) kepada Drs. H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si (atau lebih akrab disapa sebagai Cak Imin) menjadi sebuah topik yang sangat renyah dan jamak melintasi ruang dengar dan pandang saya pribadi. Peristiwa penganugerahan gelar kepada Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di era Presiden SBY tersebut pun acapkali menjadi bahan diskusi dalam beberapa hari ini, mulai dari media sosial di grup LINE teman-teman sebaya, hingga di angkringan tepi trotoar, dinikmati sembari ngopi atau menyantap indomie goreng.

Penganugerahan gelar Doktor 'Honoris Causa' kelima dari UNAIR itu menjadi ramai diperbincangkan, utamanya ketika muncul sebuah aksi yang diprakarsai oleh Forum Dosen FISIP UNAIR yang menyampaikan keberatan atas gelar tersebut (sumber berita terlampir). Banyak pula pos di media sosial yang dibuat oleh mahasiswa untuk menanggapi fenomena tersebut, dan mungkin hal serupa diharapkan oleh kawan-kawan yang menemukan tulisan ini. Sayangnya, alih-alih memenuhi harapan atas hal tersebut, kami lebih memilih berandai-andai mengenai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari: Siapakah yang sekiranya layak dan pantas menyandang gelar Doktor 'Honoris Causa' dari UNAIR selanjutnya? Namun sebelum menelisik lebih jauh, izinkan kami menawarkan satu nama yang sangat potensial untuk menjawab pertanyaan tersebut: Dika Angkasaputra Moerwani alias Raditya Dika.


Bila kita berbicara mengenai kelayakan dan kepantasan seseorang untuk dianugerahi gelar Doktor 'Honoris Causa', rujukan utama yang dijadikan landasan adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.21 Tahun 2013 tentang Pemberian Gelar Doktor Kehormatan. Pada pasal 1 disebutkan: ‘Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh suatu Perguruan Tinggi kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, dan/atau berjasa dalam bidang kemanusiaan dan/atau kemasyarakatan.’ Jika syarat untuk memperoleh gelar tersebut didasarkan pada kalimat di atas semata, kurang meyakinkan apalagi sosok Raditya Dika yang kita kenal saat ini? Sebagai penulis buku yang gemar betul mencatut nama-nama satwa sebagai judul novel, karyanya sangat digandrungi oleh mereka yang hidup di era kemunculan Kambing Jantan, Marmut Merah Jambu, atau mungkin Cinta Brontosaurus. Ide dan kisah jenaka yang ia tawarkan melalui buku-bukunya tersebut memang tak bersentuhan dengan nilai kebangsaan atau rasa cinta tanah air, namun kita semua sadari betul bahwa karya-karya Raditya Dika menjadi suatu tanda zaman merebaknya kepenulisan gaya baru yang menempatkan penulis sebagai pribadi yang tengah 'curhat' kepada para pembacanya. Lebih jauh lagi, gaya penulisan tersebut pada akhirnya merebak menjadi sebuah tren yang diikuti oleh penulis-penulis yang baru menjejakkan kakinya dalam persaingan di bidang serupa. Penggunaan bahasa sehari-hari membuat pembaca menjadi lebih akrab dengan kisah yang dituturkan, yang pada akhirnya membuat buku ini jauh lebih digandrungi kawula muda dibandingkan buku-buku otobiografi atau sejarah yang terlanjur dicederai secara jamak demi kepentingan penguasa pada masanya. Buku-buku Raditya Dika menjadi tempat persembunyian yang nyaman bagi anak SMP yang kesal akibat dihukum gurunya akibat tak mengerjakan PR, atau bagi siswi SMA yang hatinya remuk redam pasca putus dengan pacarnya.

Andai saja kita bersepakat bahwa karya kepenulisan dari Raditya Dika tidak cukup “berjasa” dalam menambah khazanah sastra Indonesia dalam satu dekade terakhir, kita masih bisa mempertimbangkan kiprahnya dalam membangkitkan geliat 'stand up comedy' di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa beliau bersama Pandji Pragiwaksono merupakan dua sosok penting yang berhasil meledakkan kembali denyut kehidupan komedi tunggal di Indonesia. Raditya Dika memang bukan yang pertama, masih ada Alm. Eddy Sud, Alm. S Bagio, Ramon Papana atau Alm. Taufik Savalas yang terlebih dulu mempertunjukkan hiburan tersebut di Indonesia. Akan tetapi, penampilan Raditya Dika dan Pandji Pragiwaksono di Stand Up Nite 1 tanggal 13 Juli 2011 yang diunggah dalam media 'Youtube' menjadi momentum awal pada saat dua stasiun TV besar seperti Kompas TV dan Metro TV mau kembali bermesra ria dengan konsep komedi tunggal dan menjadikannya sebagai salah satu program unggulan di kedua stasiun tersebut. Kini, 'stand up comedy' menjelma menjadi sebuah industri hiburan yang mampu membawa penghidupan bagi banyak orang, bahkan komika sekelas Dodit Mulyanto, Adjisdoaibu, atau Abdur merupakan beberapa dari sekian banyak komika yang mengalami perubahan drastis dalam kehidupannya, menuju ke arah yang lebih baik melalui keberadaan kesenian ini. Panggung stand up comedy juga berhasil menjadi batu loncatan bagi banyak pekarya untuk terjun di sektor hiburan lain sebagai aktor film, sutradara, atau mungkin penulis seperti Raditya Dika itu sendiri.

'Stand up comedy' sejatinya merupakan sebuah bentuk alternatif dari komedi selain 'slapstick comedy'. 'Stand up comedy' adalah sebuah diskursus retorika di mana ia tidak hanya berusaha untuk menghibur, tetapi juga mempersuasi audiens untuk melihat dunia melalui sudut pandang komik mereka (Greenbaum, 1993: 33). Bagi Yus (2002: 245), 'stand up comedy' melibatkan monolog humoris yang dapat memprovokasi gelak tawa dari para audiens; dengan kata lain mengandalkan 'mutual acknowledgement' dari topik-topik yang dimonologkan antara kedua belah pihak, yakni komika dan audiens. Bandingkan dengan 'slapstick comedy' yang dianggap sebagai 'low humor' dan mengandalkan kekerasan agar bisa dianggap “lucu”. Pemopuleran kembali stand up comedy di dunia hiburan Indonesia sendiri memberi ruang bagi para komika Indonesia untuk memperlebar sayap mereka dan memanfaatkan 'stand up comedy' untuk menyampaikan argumen retoriknya di berbagai bidang yang mereka anggap penting, salah satunya adalah di bidang politik. Greenbaum (1993: 33) juga menyatakan bahwa humor adalah bagian dari budaya populer, sehingga diseminasi informasi yang memanfaatkan medium tersebut pun terjadi lebih cepat. Karena itu, 'stand up comedy' dianggap ideal untuk dijadikan medium untuk menyuarakan berbagai hal kepada publik. Pandji juga sempat turut mengutilisasikan stand up comedy untuk menyampaikan dukungannya di bidang politik, baik ketika Pipres tahun 2014 yang lalu maupun Pilgub DKI Jakarta beberapa bulan lalu. 'Stand up comedy' di Indonesia yang dulunya dipopulerkan salah satunya oleh Raditya Dika pun saat ini telah berkembang menjadi sesuatu yang vital dalam hal menyuarakan pendapat.

Dengan mempertimbangkan kedua kiprah tersebut, apakah serta merta membuat Raditya Dika benar-benar layak untuk menerima gelar Doktor 'Honoris Causa'? Belum tentu! Memang, bisa saja kiprahnya diganjar dengan predikat Doktor 'Honoris Causa' untuk bidang Sastra Indonesia, atau mungkin di bidang Penulisan Kreatif (yang mana merupakan bagian dari studi di Ilmu Komunikasi). Pertentangan akan hadir tatkala kita mempertanyakan sumbangsih beliau dalam pengembangan pendidikan dan pengajaran, seperti apa yang tertulis pada pasal 3 berikut:

Gelar Doktor Kehormatan diberikan kepada perseorangan yang memiliki jasa dan/atau karya yang:

  1. luar biasa di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial, budaya, kemanusiaan dan/atau bidang kemasyarakatan;
  2. sangat berarti bagi pengembangan pendidikan dan pengajaran dalam satu atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan;
  3. sangat bermanfaat bagi kemajuan, kemakmuran, dan/atau kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia atau umat manusia; atau
  4. luar biasa mengembangkan hubungan baik bangsa dan negara Indonesia dengan bangsa dan negara lain di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, sosial budaya, kemanusiaan, dan/atau kemasyarakatan.

Setelah kita memperhatikan poin di atas, pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah Raditya Dika memberikan sumbangan atas pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia? Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Menjadi tidak, ketika kita menyadari bahwa tidak ada satupun tulisan akademis dengan pengaruh besar yang lahir dari tangan beliau, serta secara prematur menjatuhkan vonis bahwa tidak ada satupun karya beliau yang cukup layak untuk memunculkan kajian-kajian akademis bagi disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan karyanya. Menjadi iya, karena sayang seribu sayang vonis tersebut menjadi gugur tatkala kita mencoba membuka mesin pencarian 'Google' dengan menuliskan kata kunci “Skripsi Raditya Dika”. Dari kata kunci tersebut, ada ratusan unggahan file yang menjadikan karya-karya Raditya Dika sebagai rujukan atau bahkan objek utama dari skripsi yang notabene merupakan salah satu bentuk penulisan akademis. Kalau secara kuantitas dirasa belum cukup, silakan ganti kata ‘skripsi’ dengan ‘jurnal’, belum lagi kalau anda sekalian membuka repository kampus anda masing-masing. Setelah itu dilakukan, kami rasa kita bisa lebih bersepakat untuk menerima fakta bahwa karya-karya Raditya Dika telah menjelma menjadi sebuah objek yang sangat seksi untuk ditelaah dan dianalisis secara akademis.

Menimbang segala kiprah dan sumbangsih yang diberikan secara konsisten selama dua belas tahun terakhir dalam belantika karya tulis kontemporer dan komedi tunggal, lengkap dengan pengaruhnya terhadap kajian-kajian baru yang tak terbantahkan, membuat argumentasi dalam menjadikan Raditya Dika sebagai Doktor Honoris Causa tidak bisa dipandang sebagai sebuah hal yang remeh. Kami yakin tidak sedikit dari anda yang mungkin tenggelam dalam tawa yang berlarut ketika menuntaskan tulisan ini dan memandang apa yang kami sampaikan sebagai sebuah candaan semata. Sayangnya, memang ini sebuah candaan berbalut doa penuh harapan, bahwa ada satu atau dua orang diluar sana yang bisa menerima tulisan ini sebagai sebuah pertimbangan yang didasari atas argumen yang cukup bertenaga. Kami yakin, bahwa Raditya Dika memiliki kapasitas untuk dianugerahi sebagai seorang Doktor 'Honoris Causa'.

Pertanyaan selanjutnya adalah kapan, bagaimana prosesnya, dan dari mana? Radit bisa menjadi Doktor Honoris Causa satu atau dua tahun lagi, atau mungkin menunggu para penikmat tulisannya yang saat ini duduk di bangku sekolah/universitas, menjelma menjadi guru besar atas studi yang mereka hidupi atas kecintaan terhadap karya beliau? Persoalan selanjutnya adalah bagaimana gelar tersebut dianugerahkan atasnya, entah dengan pengamatan yang cermat dan penuh ketelitian, atau penuh ketergesa-gesaan serta lengkap dengan sentimen negatif yang berkelindan. Radit bisa menjadi Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia yang merupakan almamaternya saat mengambil studi Magister Ilmu Politik, atau mungkin gelar tersebut ia dapat dari Universitas lain yang memiliki kerendahan hati dan sumberdaya yang cukup untuk melakukan penyelidikan atas karya beliau. Penyelidikan tersebut pasti akan membuahkan proses panjang penuh kehati-hatian, namun kami rasa hal tersebut cukup layak untuk dilakukan demi menghargai karya-karya fenomenal yang telah menyelamatkan nasib begitu banyak mahasiswa di Indonesia melalui objek-objek penelitian yang telah ia lahirkan. Penyelidikan tersebut saya rasa juga cukup berharga bagi sebuah universitas yang teramat jarang menganugerahkan gelar Doktor 'Honoris Causa' pada seorang tokoh. UNAIR, mungkin?

Ditulis oleh Benediktus Andre Setyawan dan Detara Nabila Prastyphylia
Infografis oleh Faizul Akbar

-

Referensi:

  • Greenbaum, Andrea. 1993. “Stand-up Comedy as Rhetorical Argument: An Investigation of Comic Culture” dalam Humor-International Journal of Humor Research. 12(1): 33-46.
  • Yus, Francisco. 2002. “Stand-up Comedy and Cultural Spread: The Case of Sex Roles” dalam Babel AFIAL. 10: 245-292.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...