2 Girls 1 Cup: Coprophilia, Coprophagia, Feses, dan Rasa Jijik

11:49 PM

Seringkali kita tidak menyadari banyak hal ketika kita menonton sesuatu, banyak jenis ekspresi yang kita buat saat sedang menonton sesuatu. Beberapa mungkin kita sadari, beberapa reaksi mungkin terjadi bahkan tanpa kita sadari. Ketika seseorang menonton sesuatu, ketika dia menjadi seorang penonton, orang tersebut tidaklah pasif, dia menjadi aktif, dia memberikan reaksi terhadap apa yang dia saksikan.

Menurut Jacques Ranciere (2009) dalam bukunya yang berjudul The Emancipated Spectator, kita tidak akan pernah bisa menganggap penonton sebagai pasif:

‘....[W]hat make it possible to pronounce the spectator seated in her place inactive, if not the previously posited radical opposition between the active and the passive? Why identify gaze and passivity, unless on the presupposition that to view means to take pleasure in image and appearances while ignoring the truth behind the image and the reality outside the theatre? Why assimilate listening to passivity, unless through the prejudice that speech is the opposite of action?

These oppositions - viewing/knowing appearance/ reality, activity/passivity - are quite djfferent from logical opposition between clearly defined terms. They specifically define a distribution of the sensible, and a priori distribution of the positions and capacities and incapacities attached to these positions. They are embodied allegories of inequality.

That is why we can change the value of the term , transform a 'good' term into a 'bad one and vice versa without altering the functioning of the opposition itself. Thus, the spectator is discredited because he does nothing, whereas actor on the stage or worker outside put their bodies in action.

But the opposition of seejng and doing returns as soon as we oppose to the blindness of manual workers and empirical practitioner , mired in immediacy and routine the broad perspective of those who contemplate idea predict the future or take a comprehensive view of our world.’

Walaupun tidak terlibat secara langsung dalam sebuah proses pembuatan karya, seorang penonton atau disebut spectator akan dengan aktif memberikan reaksinya selama dia melihat sesuatu, reaksi ini sendiri, penonton akan memperhatikan struktur dan interpretasinya dari sebuah teks dan membandingkannya dengan segala komplikasi kultural dan kepuasan psikologis yang dia miliki. (Carboni, 2007).

Kali ini kami mengajak seseorang untuk menyaksikan sebuah tayangan dan memintanya untuk memberikan reaksinya, tayangan yang kami pilih adalah 2 Girls 1 Cup, sebuah video berdurasi 1 menit yang sempat populer pada pertengahan bulan Oktober tahun 2007.


Video ini populer sebagai sebuah “shock videos” dimana orang-orang menyebarkan video ini dengan tujuan untuk mengejutkan orang lain dan melihat bagaimana reaksi mereka akan video ini, sesuai dugaan, situs Youtube.com pada masa itu mendadak dibanjiri video reaksi terhadap video ini diunggah dari seluruh belahan dunia.

2 Girls 1 Cup sendiri adalah sebuah video yang menampilkan dua orang wanita yang terlihat sedang melakukan hubungan intim dengan balutan unsur fetishistic terutama fetish coprophilia atau ketertarikan seksual terhadap feses dan kegiatan defekasi. Video ini menampilkan adegan dimana salah satu wanita tersebut melakukan defekasi ke sebuah gelas dan kemudian kedua wanita dalam video tersebut terlihat mengkonsumsi isi gelas tersebut secara bergantian.

2 Girls 1 Cup sendiri adalah nama tidak resmi dari sebuah trailer film yang memiliki judul asli “Hungry Bitches” buatan MFX Media sebuah studio asal Brazil dan disutradari oleh Marco Antonio Fiorito yang pada saat itu menuliskan namanya sebagai Marco Villanova, Marco sendiri memang sudah sering membuat film-film bertema fetishistic sebelumnya.

2 Girls 1 Cup memicu banyak reaksi dari seluruh dunia, termasuk dari beberapa orang terkenal seperti Joe Rogan, host dari acara televisi “Fear Factor” yang pada saat itu terkenal sebagai tayangan yang banyak menampilkan adegan menjijikkan sebagai sebuah tantangan, bahkan Kermit The Frog dari Sesame Street juga sempat ikut memberikan reaksi.

2 Girls 1 Cup bisa dibilang sebuah scat porn atau video pornografi yang melibatkan feses, istilah scat diambil dari studi keilmuan scatologi, sebuah studi keilmuan yang menjadikan feses sebagai fokus utamanya. Dalam psikologi, scatologi sendiri dianggap sebagai sebuah obsesi terhadap zat ekskresi pada manusia atau dalam konteks fetish, lebih dikenal sebagai coprofilia atau ketertarikan seksual terhadap feses.

Konten pornografi seperti 2 Girls 1 Cup dibuat untuk memenuhi hasrat orang-orang dengan kecenderungan seperti ini, scat porn sendiri merupakan salah satu jenis pornografi yang cukup banyak dibuat meskipun sebagian besar dari konten pornografi bertemakan scat tidak benar-benar menggunakan feses ataupun zat ekskresi apapun dalam proses produksinya, seringkali feses diganti dengan bahan-bahan seperti coklat, es krim atau berbagai bahan lainnya yang secara visual terlihat mirip seperti feses karena tidak semua aktor pornografi setuju untuk melakukan adegan coprophagia atau kegiatan mengkonsumsi feses.

2 Girls 1 Cup juga menunjukkan adegan yang bersifat coprophagia atau konsumsi atas feses. Coprophagia sendiri sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan coprophilia, secara coprophagia adalah istilah yang umum digunakan dalam studi atas fauna. Akan tetapi depiksi atas kegiatan coprophagia ini sendiri menjadi sesuatu yang bisa jadi ditampilkan dalam berbagai macam konten pornografi bertemakan scat.

Untuk itu, kami pun melakukan eksperimen dengan maksud untuk melihat bagaimana reaksi penonton terhadap video 2 Girls 1 Cup dan mengamati bagaimana reaksi dan persepsi mereka terhadap perilaku coprophagia yang ditampilkan dalam video tersebut sebagai bagian dari masyarakat.

Kami memilih satu orang yang belum pernah menonton video scat tersebut sebelumnya dan baru akan pertama kali menonton pada saat eksperimen ini dilakukan sebagai subjek penelitian. Eksperimen dilakukan dengan cara mempertontonkan video 2 Girls 1 Cup kepada subjek penelitian sambil direkam dengan kamera secara simultan sepanjang video berlangsung untuk mengabadikan reaksi mereka saat menonton video tersebut.

Setelah menonton video 2 Girls 1 Cup, peneliti akan memberikan beberapa pertanyaan mengenai bagaimana pendapat subjek penelitian mengenai video yang berdurasi cukup pendek itu. Hasil video rekaman yang terlampir juga tidak akan dipotong atau di-edit, sehingga keutuhan data yang didapat dari subjek penelitian tidak akan terpotong pula.

Setelah itu, kami pun melakukan analisis terhadap data yang berupa reaksi verbal maupun nonverbal subjek penelitian tersebut untuk mencari tahu penyebab mengapa subjek penelitian bereaksi demikian ketika dipertontonkan video 2 Girls 1 Cup.

Ketika eksperimen dilangsungkan, di detik-detik pertama video 2 Girls 1 Cup yang mempertunjukkan adegan 2 orang wanita yang menyentuh payudara satu sama lain subjek penelitian menunjukkan ekspresi wajah kaget dan mengangkat alisnya, karena tanpa ada build-up apa pun langsung memasuki adegan tersebut.

Kemudian scene langsung berpindah pada adegan ketika salah satu wanita itu mengeluarkan fesesnya dan wanita lain menampungnya dalam gelas. Ekspresi subjek penelitian pun berubah secara ekstrem, sambil bereaksi secara verbal dan mempertanyakan video tersebut dengan suara keras. Ia pun kemudian menutupi wajah dan matanya karena merasa melihat sesuatu yang salah. Subjek penelitian juga banyak mengeluarkan umpatan ketika menonton video 2 Girls 1 Cup.

Pada eksperimen yang kami lakukan, subjek penelitian mengaku merasakan berbagai macam emosi dalam satu waktu. Tetapi ketika kami tanyai emosi atau perasaan apa yang dominan, ia mengungkap bahwa rasa jijik adalah yang paling ia rasakan ketika menonton video 2 Girls 1 Cup.

Coprophagia cenderung dianggap sebagai sesuatu yang secara universal “salah” karena perilaku mengonsumsi feses dipersepsikan oleh masyarakat secara umum sebagai sesuatu yang menjijikkan. Rozin dan Fallon (1987) menganggap bahwa rasa jijik pada intinya adalah emosi yang berhubungan dengan penolakan suatu makanan, meski secara kultur elisitor penyebab rasa jijik tersebut berbeda-beda.

Bagi mereka, makanan dan produk-produk yang diekskresikan oleh tubuh adalah elisitor inti yang menimbulkan rasa jijik itu sendiri, yang mana elisitor tersebut oleh otak dipersepsikan sebagai stimuli yang merangsang munculnya rasa jijik.

Cara otak mempersepsikan elisitor tersebut pun oleh Rozin dan Fallon dinyatakan sebagai hasil dari seleksi alam yang secara naluriah telah tertanam di DNA kita secara tidak sadar, dengan maksud untuk menghindari patogen biologis.

Secara biologis, feses memang mengandung bakteri yang cukup berbahaya bila memasuki sistem pencernaan manusia secara oral, yakni bakteri E. Coli.

Selain itu, aroma feses yang telah memasuki proses pembusukan di sistem pencernaan sebelumnya merupakan stimulus yang juga dianggap dapat menyebabkan rasa jijik, sama seperti hal-hal lain yang telah memasuki masa pembusukan atau decomposing dan mengeluarkan bau busuk. Spesies-spesies yang dalam ekosistem bertugas menjadi pengurai seperti lalat pun akan senang mengerumuni hal yang berbau busuk dan bertelur di situ, yang mana bila manusia mengonsumsi sesuatu yang mengandung telur maupun larva lalat pun akan menyebabkan penyakit pencernaan.

Maka tak heran bila feses maupun perilaku coprophagia dipersepsikan sebagai sesuatu yang menjijikkan dan tak wajar, karena otak manusia telah diprogram demikian sebagai metode seleksi alam agar spesiesnya tidak punah karena patogen-patogen biologis.

Rozin, et. al. (1999) juga sempat menyinggung mengenai rasa jijik tersebut dalam artikel jurnalnya. Mereka berkata:

‘[I]n our view, this powerful core disgust system, which stimulates a sense of repulsion and a withdrawal from the elicitor, was preadapted for easy extension to other threatening entities, including social and moral threats.

Making something disgusting means producing internalized motivation to avoid it.’

Meski pornografi scat memiliki niche-nya sendiri, perilaku coprophagia boleh jadi dianggap sebagai sesuatu hal yang tabu dan dianggap tak lazim. Menurut artikel jurnal yang ditulis oleh beberapa psikiater, sejauh ini coprophagia secara umum lebih banyak diasosiasikan dengan kondisi gangguan mental yang parah, seperti retardasi mental, skizofrenia, demensia, dan depresi. (Blasco-Fontecilla, et. al., 2015). Karena itu, coprophagia pun dianggap sebagai sebuah perilaku yang menyimpang dari kaidah yang ada dari sisi medis, yakni kesehatan fisik dan juga kesehatan mental.

Blanco-Fontecilla, et. al. juga menyatakan bahwa coprophagia pada manusia adalah sebuah fenomena yang langka dengan berbagai konsekuensi, baik secara sosial maupun secara medis.

Oleh karena itu, tidaklah heran ketika subjek penelitian mengungkapkan rasa jijiknya ketika menonton video 2 Girls 1 Cup karena otak manusia pun pada kenyataannya telah diprogram demikian secara naluriah.

Awalnya video ini memang dibuat untuk memancing perhatian publik agar penjualan dari film Hungry Bitches menjadi lebih tinggi. Akan tetapi video yang tidak lazim ini justru menuai kepopulerannya sendiri sebagai “shock videos” yang memancing orang lain untuk menonton dan memberikan reaksi.

Hal ini menunjukkan bahwa spectator atau penonton dari suatu objek visual dapat memberikan nilai secara aktif pada objek tersebut, yang mana membuat video 2 Girls 1 Cup ini menjadi video yang disebut sebagai “menjijikan” atau “mengejutkan”.

Reaksi dari subjek penelitian kami memberikan nilai bahwa apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang sangat ekstrim dan tidak lazim. Hal itu kemudian ditunjukkan dengan ekspresi secara nonverbal maupun verbal. Sementara dalam pembuatannya, video ini tidak menggunakan feses asli akan tetapi presepsi yang hadir pada spectator menjadi nilai yang membekas pada video tersebut dan mempengaruhi nilai sebuah karya.

Ditulis oleh Detara Nabila Prastyphylia, Anandias Satrya Putra, dan Finnuri Yumnasa.

Bagi yang ingin menonton video asli 2 Girls 1 Cup bisa klik disini. Risiko ditanggung sendiri ya, jangan marah-marah ke saya kalo udah nonton 😛

-

Referensi:

  • Blasco-Fontecilla, H., García-Nieto, R., Álvarez-García, R., Mata-Iturralde, L., Artieda-Urrutia, P., Blanco, C. dan Baca-García, E., 2015. “Coprophagia in a patient with borderline personality disorder” dalam The European Journal of Psychiatry. 29(3): 211-214.
  • Carboni, C. 2007. Film Spectatorship and Subjectivity: Semiotics, Cmplications, Satisfactions. Stellenboch: University of Stellenboch.
  • Rancière, J. and Elliott, G. 2011. The Emancipated Spectator. London: Verso.
  • Rozin, P. dan Fallon, A. E. 1987. “A Perspective on Disgust” dalam Psychological Review. 94: 23-41.
  • Rozin, P., Haidt, J. dan McCauley, C.R. 1999. “Disgust: The Body and Soul Emotion in the 21st Century” dalam Handbook of Cognition and Emotion. 429-445.

You Might Also Like

2 comments

  1. Terima kasih. Sudah lama saya mengetahui video tersebut dan saya tidak merasa jijik sedikit pun walau sudah beberapa kali menontonnya. Ada apa dengan diri saya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Different strokes for different folks, mungkin Anda lebih unfazed bila dipaparkan dengan konten yang sejenis. Lain lagi bila Anda merasa terangsang ketika menonton video tersebut, bisa jadi anda memiliki coprophilia :)

      Delete

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...