Pemalsuan Sertifikat ELPT: Tindak Kriminal, Sanksi SOP, dan Argumen Cacat Logika

3:15 PM


Tulisan ini dibuat untuk menanggapi argumen pihak yang masih membela pemalsu sertifikat ELPT. Because we just have to agree to disagree, right?

-

Q: Ngapain sih pake ada sanksi bayar SOP segala?

A: Gaakan ada sanksi bayar SOP kalo mereka gak melakukan pemalsuan dokumen in the first place. So they should've seen this coming really.

-

Q: Tapi sama rektorat dibilangin kalo bayar SOP itu bukan sanksi, makanya jangan sok tau dong!

A: Ya meneketehek shay, di postnya onoh (bahkan di koran) bilangnya ini sanksi kok. Yawis to aku pake terminologi yang dia pake — pembayaran SOP sebagai sanksi.

-

Q: Bayar SOP kan bukan sanksi yang mendidik!

A: Lha terus opo lho shay sanksi yang "mendidik" dan bikin jera? Nulis "saya tidak akan beli sertifikat ELPT palsu" di papan tulis koyok Bart Simpsons ta?

Sek untung cuma bayar SOP shay. Tau gak kalo mahasiswa UNAIR yang terbukti beli sertifikat ELPT palsu tuh nama2nya udah digugat secara hukum atas pemalsuan dokumen sama salah satu universitas di Surabaya yang sertifikatnya dipalsukan?

Secara hukum lho ya shay, yang berarti PIDANA. Hukuman kurungan. Bahkan penjara. Mereka sempet jadi TAHANAN DALAM KOTA, gaboleh keluar dari kota Surabaya sampe proses penyelesaian masalah ini kelar. Sounds like real criminal enough for you?

Tapi sama rektorat UNAIR udah diperjuangkan mati2an gimana caranya mereka2 gak diproses secara hukum dan gak dipidanakan. Instead pihak rektorat PLEADING ke universitas yang bersangkutan untuk bisa diselesaikan secara kekeluargaan & berusaha memposisikan mahasiswa sebagai korban.

Anggep ae lah duit SOP yang dibayarkan sebagai sanksi dibuat bayarin pengacara dan tetek bengeknya. Buat apa pengacara? Ya buat ngurusin & ngebelain mereka2 yang terbukti kena kasus pemalsuan sertifikat ELPT, yang emang salah mereka sendiri sejak awal.

Lha bayangin kalo pihak universitas gak mbelani, terus mereka dipidanakan, terus masuk ke catatan kepolisian, terus waktu mereka nyetak SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) buat persyaratan ngelamar kerja di bawahnya ada tulisan: "PERNAH TERLIBAT PEMALSUAN DOKUMEN".

Yaopo perasamu? Mana ada perusahaan yang mau ngerekrut orang dengan catatan kepolisian kaya gitu? HRD e keder kabeh shay. Mikir jangka panjang ae lah shay. Aku berani taruhan andaikata mereka dikasih pilihan bayar SOP atau dipidanakan, mereka bakal pilih bayar SOP.

-

⚠ SPECIAL MESSAGE ⚠
Buat mereka yang malsuin sertifikat ELPT dan masih gak merasa bersalah, masih playing victim, masih berusaha membela diri, masih menjustifikasi perbuatan mereka:

Bersyukur o dirimu gak dipenjara shay.

Sekali ada criminal record masuk ke catatan kepolisianmu, dijamin kalian bakal hampir MUSTAHIL BUAT KETERIMA KERJA, fix. Apalagi kasus pemalsuan dokumen.

INTEGRITASMU di masa depan, SEUMUR HIDUPMU, bakal terancam shay kalo sampe ketauan. MASA DEPANMU HANCUR shay.

Plagiarisme aja bisa dipidanakan, gelar akademisnya bisa dicopot, lha gimana PEMALSUAN DOKUMEN? Yang jelas2 tertera dalam KUHP sebagai Delik Pidana (bukan Delik Aduan)?

Diwenehi ati ngerogoh rempelo, yo dirimu iku shay. Wes enak onok seng cleaning up the mess you've made, gausah kakehan polah kakehan njaluk macem-macem po'o shay. Sek enak gak sampe di DO gak sampe dipenjara. Wes dibelani universitasmu ben awakmu gak dipidanakan, bayar SOP opo angele?

-

Q: Masa cuma mahasiswanya doang yang dikasih sanksi, yang mengedarkan sertifikat palsunya juga dong!

A: Sudah kok, justru daftar nama pembeli sertifikat palsu keluar waktu oknum yg memperjualbelikan sertifikat ELPT ketangkep. Tenang shay, asline udah teratasi. Cuma gara2 ada yang demo jadi kasusnya rame lagi.

-

Q: Kan bayar SOP gak sesuai peraturan rektor dan statuta blablabla itu!

A: Apakah disebutkan secara EKSPLISIT dalam peraturan rektor atau statuta blablabla itu kalo peraturannya berlaku secara UNCONDITIONAL, bersifat inklusif bahkan untuk mereka yang melakukan kecurangan memalsukan sertifikat ELPT?

Kalo iya, then UNAIR gotta stick to their words.

Kalo gak, ya wis to. Mereka udah ngelanggar peraturan dengan beli sertifikat ELPT palsu kok sek mencak2 soal bayar SOP "melanggar peraturan". Wong ya di berita yang dimuat di koran Jawa Pos udah dikasih keterangan sama Pak Suko Widodo kalo keberatan bisa mengajukan banding.

Don't rich people difficult, shay.

-

Q: Kalo mereka mahasiswa kurang mampu gimana? Kan berat harus bayar SOP, apalagi besarannya gak setara.

A: Ya salah sendiri berbuat curang to shay. Udah tau kemampuan finansial terbatas kok cari perkara pake beli sertifikat ELPT palsu segala. Yang namanya konsekuensi akan datang tanpa pandang bulu ke sang pelaku, siapapun orangnya. Itulah hukum aktif — bukan hukum adat, bukan hukum rimba, bukan hukum alam.

Lagi pula kok bisa beli sertifikat palsu itu duitnya dari mana? Harganya gak murah lho, ratusan ribu. Duit segitu harusnya bisa buat les persiapan tes ELPT di pusat bahasa atau bimbel manapun. Banyak shay lembaga bimbel bahasa Inggris yang gak sampe juta2an.

Masih minta sanksi yang "setara"? Dipidanakan kabeh ae ta? Setara kan?

-

Q: Ngerugiin ribuan pihak gimana maksudmu?

A: Inget gak pada suatu hari ada RIBUAN mahasiswa yang yudisiumnya ditunda? Terus mereka harus antre berjam2 di pusat bahasa buat legalisir berkas & sertifikat ELPT/TOEFL mereka gara-gara antrean membeludak? Lha mbok peker yang kaya gitu gak rugi ta shay? Rugi tenaga? Rugi waktu? Rugi materi/duit? Rugi pikiran? Yudisium diundur seminggu itu udah fatal lho.

Bayangin yang mau dateng ke job fair tapi gak bisa gara2 Surat Keterangan Lulus (SKL) belum ada.

Bayangin mereka yang mau ngelamar kerja tapi gak bisa gara2 SKL belum ada, jadinya belum bisa memenuhi syarat administratif.

Bayangin mereka yang mau wawancara kerja, udah bikin appointment segala macem, tapi tiba2 harus diundur atau bahkan batal gara2 SKL belum ada dan harus ngurus verifikasi & legalisir berkas di pusba.

Bayangin mereka yang lagi gak di Surabaya, kalo di luar kota? Di luar pulau? Mbok suruh bolak balik perjalanan puluhan, ratusan, ribuan kilometer?

Bayangin kalo ada yang udah kerja terus yang awalnya izin ke bosnya cuma pergi dari kantor beberapa saat doang ternyata harus antre seharian. Suwungkan lho ingkar janji ke bos kaya gitu, aku seng wes tau kerja kantoran se paham rasane shay.

Bayangin berapa banyak masa depan & jadwal orang gak bersalah yang dibuat porak-poranda oleh mereka yang mau ambil jalan pintas. Belum lagi ada yang jadi keseret gabisa yudisium & harus ikutan bayar SOP juga, padahal innocent. Belum lagi hubungan antar universitas jadi merenggang.

Ajur shay, gak cucmey blas.

-

Q: Ini juga salah kampus yang gak memberikan pelatihan bahasa Inggris yang cukup kepada mahasiswanya! Kalo les kan biayanya mahal, gak semua orang mampu.

A: Lha terus apa itu banner gede2 terpampang nyata di depan pusat bahasa UNAIR & sekitaran kampus B (bahkan C), ngasih info kalo ADA les persiapan ELPT gratis dan juga tes ELPT gratis, tanpa dipungut biaya (meski kuota dibatasi)?

Pusba UNAIR secara periodik memberikan kesempatan les persiapan ELPT dan tes ELPT gratis buat mahasiswa2 yang nilai ELPTnya belum memenuhi syarat untuk yudisium. Buat mahasiswa bidik misi juga ada yang khusus kok. Mbok ya itu dimanfaatkan.

Situ ada akses internet kan? BANYAK materi GRATIS buat persiapan tes sejenis TOEFL di internet. Simulasi tes TOEFL-like buat mengasah kemampuan ngerjain tes juga banyak. Hidup itu gak cuma satu cara, banyak jalan menuju Roma. Belajar gak harus di dalam kelas.

Punya smartphone kan? Download aplikasi Duolingo bisa kan?

-

Q: Tapi kan gak disosialisasikan dengan baik soal les gratis itu, buktinya banyak yang gak tau!

A: BANNER GUEDE UKURAN 4x1M TENTANG ELPT MOSOK GATAU KETOK BLAS SHAY? Poster & edaran di papan pengumuman kampus mosok ya gatau ketok? Gatau buka2 pusatbahasa.fib.unair.ac.id pisan padahal di situ infonya lengkap?

Berarti situ yang kurang perhatian shay.

Okelah andai kata emang gatau ketok, mbok ya inisiatif cari info. Tanya2 akademik kek, tanya2 senior atau alumni kek, jangan minta disuapin terus. Mahasiswa kan? Wes dewasa kan? Gimana mau siap di dunia kerja kalo mentalnya masih mental2 minta disuapin?

-

Q: Ngapain sih pake ngewajibin ELPT buat yudisium segala? Mending dihapuskan aja!

A: Yaelah shay, dunia kerja makin lama makin kompetitif. Ada 7.005.262 penganggur di Indonesia pada saat ini. Kemampuan berbahasa Inggris yang baik tuh bisa jadi nilai tambah buat kalian ngelamar kerja nantinya.

Sekarang udah banyak yang menjadikan nilai TOEFL/ELPT/sejenis sebagai syarat administratif buat ngelamar kerja. Syarat administratif lho ya, garda depan. Kalo di awal aja udah tebal gimana mau dapet kerjaan?

Belum lagi buat apply beasiswa ke luar negeri, nilai TOEFL di atas 550 itu udah mutlak, gabisa ditawar. Bahasa Inggris itu bahasa internasional shay, gerbang dunia.

Hegemoni linguistik? Jelas, wes rahasia umum, apalagi di kalangan mahasiswa yang makanan sehari2nya teori2 kritis. Tapi yawes gausah gontok2an teori kritis, realistis ae shay. Bahasa lah yang bikin kita bisa berkomunikasi, menciptakan mutual understanding.

Lagian apa se ruginya punya kemampuan berbahasa Inggris bagus & nilai ELPT tinggi? GAADA! Malah banyak manfaatnya kelak.

-

Q: Temenku yang speakingnya bagus aja gak lulus ELPT, jadi gabisa dijadikan acuan!

A: Lho shay kemampuan speaking bukan indikator kemampuan berbahasa seseorang secara utuh. Fluency iya, tapi kan kalo speaking gak peduli grammar & structure. Sedangkan ada banyak aspek lain dalam suatu bahasa: writing, reading, listening, grammar, structure, dll.

Karena kita akademisi, ya kemampuan kita bakal dilihat dari karya-karya ilmiah yang kita hasilkan, misalnya jurnal & tulisan ilmiah lain. Lha yang dibutuhkan skill reading, writing, grammar, dan structure — bukan sekedar speaking.

Nah itulah guna ELPT shay, sebagai benchmark dan tolak ukur kuantitatif kemampuan kita di bidang tersebut.

-

Q: Kenapa harus bahasa Inggris? Kenapa gak bahasa daerah atau bahasa Indonesia?

A: Lha dulu Soekarno berdiplomasi sampe bisa bikin negara Indonesia merdeka itu pake bahasa apa aja shay? Wis monggo dipikirin dewe ok.

-

Q: Ngapain sih nyebar aib UNAIR?

A: Tell that to Jawa Pos yang menyebarluaskan berita tentang ini ke masyarakat sejak 1 September lalu. Itu pun gara2 demonya pihak onoh. Jadi dipikir dulu shay, yang ngeblowup masalah ini duluan siapa.

-

Salam penutup buat mereka2 yang curang:

SINAUO SHAY

-

Ditulis oleh: Detara Nabila Prastyphylia
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga
Angkatan 2014

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...