Erotisisme Gadis Barely Legal sebagai Pemantik Gairah Seksual di Dunia Maya

6:11 PM

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), erotisisme adalah “keadaan bangkitnya nafsu berahi”. Tak hanya berupa sekedar penggambaran akan perasaan tersebut, erotisisme juga mencakup segala usaha dan representasi untuk memunculkan perasaan nafsu berahi.

Hal itu semakin diperkuat dengan definisi sederhana dari erotisisme menurut Merriam-Webster, yakni suatu kualitas yang menyebabkan bangkitnya perasaan seksual. Kualitas-kualitas tersebut dapat ditemukan di berbagai hal – mulai dari lukisan, ukiran, dan pahatan, hingga film, fotografi, musik, drama, dan literatur.

Sedangkan “barely legal” adalah istilah yang banyak digunakan oleh penduduk Amerika Serikat untuk menyebut remaja (terutama remaja putri) yang baru berusia 18 tahun. Secara harfiah, barely berarti (1) baru saja (2) hampir tidak, dan legal berarti sah secara hukum. “Barely legal” pun berarti “baru saja sah secara hukum” atau “hampir tidak sah secara hukum”.

Terdapat false sense of security di dalam istilah tersebut, karena adanya kata “hampir”. Seakan-akan seseorang bisa saja melakukan hal yang ilegal, namun mereka tetap aman dan masih bisa menghindar meski hanya berjarak sejengkal dari bahaya tersebut.

“It’s legal, so it’s okay.”

Kalimat tersebut menciptakan lingkaran setan yang kerap dijadikan justifikasi pihak-pihak, terutama pria dewasa, yang sexualizing atau mengeksploitasi secara seksual gadis-gadis yang baru berusia 18 tahun.

Usia 18 tahun merupakan usia yang banyak dieksploitasi secara seksual, terutama di internet, karena usia tersebut merupakan usia di mana seorang gadis sebenarnya masih sangat belia dan masih memiliki sifat kekanak-kanakan, tetapi sudah mencapai kedewasaan di mata hukum.

Mereka pun sudah tak lagi dianggap “di bawah umur” dan telah legal untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika ia masih berusia di bawah 18 tahun, mulai dari mengakses konten-konten dewasa atau memiliki rating 18+ (seperti pornografi) hingga menjalin hubungan seksual dengan siapa pun, berapa pun usia partnernya.

Dalam bukunya yang berjudul The Lolita Effect: The Media Sexualization of Young Girls and What Can We Do About It, Durham (2008, hal. 118) menyatakan bahwa ada penekanan pada aspek youthfulness atau kemudaan di media sebagai seksualitas ideal wanita.

Professor di University of Iowa tersebut memberi contoh berupa iklan billboard dari Lee, sebuah perusahaan celana jeans.


Iklan tersebut menampilkan seorang model remaja perempuan yang hanya mengenakan sepasang hot pants sambil mengemut permen lollipop dan menampakkan sebagian payudara.

Banyak kalangan yang menentang keras iklan yang dianggap terlalu provokatif tersebut. Mereka memprotes Dewan yang menyetujui penayangan iklan Lee itu. Akan tetapi, Dewan yang bersangkutan menyanggah protes tentang iklan tersebut dengan alasan:

"...consumption of this style of lollipop is now common amongst people over 18."


Lagi-lagi, model tersebut berumur 18 tahun – umur “barely legal”. Hal ini membuktikan premis yang menyatakan bahwa seksualitas ideal wanita yang ditampilkan di media adalah yang memiliki sifat kemudaan, bahkan kekanak-kanakan.

Bagi kultur Amerika Serikat yang menjunjung tinggi youthfulness (dibanding dengan Indonesia yang lebih menjunjung tinggi senioritas karena adanya asumsi bahwa mereka yang lebih tua memiliki pengalaman lebih), “barely legal” is like the best of both world.

Konsep “barely legal” sendiri muncul sebagai akibat dari sistem hukum di Amerika Serikat yang memberlakukan age of consent, yang menyebabkan suatu individu harus mencapai batas umur minimal tertentu sebelum ia bisa memberikan persetujuan pada orang lain untuk berhubungan seksual dengannya secara legal di mata hukum.

Tidak ada aturan yang berlaku secara nasional yang mengatur tentang age of consent, melainkan tiap-tiap dari 50 negara bagian yang ada di Amerika Serikat memiliki otoritas untuk menentukan batas umur minimal tersebut sesuai kebijakan mereka sendiri.

Age of consent bervariasi mulai dari umur 14 tahun hingga 18 tahun, namun sebagian besar negara bagian menentukan umur 16 tahun sebagai age of consent. Contohnya di Connecticut, Georgia, dan Montana.

Bagi orang dewasa yang melanggar peraturan mengenai age of consent, mereka akan dianggap melakukan statutory rape karena telah berhubungan seksual dengan anak di bawah batas umur minimal yang berlaku sesuai negara bagian tempat mereka berada.

Sanksi ini berlaku untuk setiap hubungan seksual yang dilakukan dengan anak di bawah umur yang telah ditentukan, baik dengan atau tanpa paksaan, karena mereka belum bisa memberikan izin yang dianggap sah secara hukum.

Pelanggaran tersebut akan dijerat dengan hukuman kurungan yang lamanya juga telah diatur oleh masing-masing negara bagian. Namun, ada pula beberapa negara bagian yang memberlakukan hukuman progresif sesuai umur pelanggar: semakin tua, semakin berat pula hukumannya. Contohnya di California, Maryland, Missouri, Nevada, dan New York.

Selain age of consent, konsep “barely legal” juga muncul karena age of majority, yang mana merupakan batas usia saat seseorang dianggap dewasa secara hukum – saat mereka dianggap sah untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum.

Seperti age of consent, kebijakan mengenai age of majority juga diserahkan sepenuhnya ke tiap-tiap negara bagian dan batas usia tersebut bervariasi pula. Namun, untuk age of majority hanya berkisar antara umur 18 tahun atau 21 tahun – intervalnya tidak sebesar age of consent.

Karena populernya konsep “barely legal” di kalangan masyarakat Amerika Serikat, akhirnya istilah tersebut banyak digunakan dalam judul-judul konten pornografi di internet, terutama yang berbentuk video.

Terbukti dari hasil pencarian di Google dengan kata kunci “barely legal video” yang menghasilkan kurang lebih 14.200.000 hasil pada saat artikel ini ditulis. Bahkan, tak sedikit pula situs-situs yang mengategorikan “barely legal” sebagai genre tersendiri dari sekian banyak genre pornografi karena banyaknya jumlah peminat.

Eksploitasi gadis muda pun kian hari kian marak karena pihak pengeksploitasi berlindung di bawah payung hukum, dengan dalih bahwa gadis-gadis tersebut berusia di atas 18 tahun – telah legal untuk ditampilkan secara seksual.

Bahkan pada saat mereka sebenarnya jauh lebih tua dari umur 18 tahun, sering kali mereka tetap “dipasarkan” sebagai remaja yang “barely legal” agar lebih menarik banyak audiens.

Salah satu pihak yang memanfaatkan konsep “barely legal” tersebut adalah Teen Revenue – agensi asal Amerika Serikat yang mengelola puluhan situs pornografi dengan spesialisasi teen niche atau pasar terbatas pornografi genre remaja, terutama gadis remaja, yang sebagian besar juga berasal dari Amerika Serikat.

Dalam situs-situs mereka, baik nama situs hingga deskripsi situs, Teen Revenue menggunakan kata kunci yang banyak diasosiasikan dengan konsep “barely legal”, seperti “18”, “young” atau “muda”, “cute” atau imut-imut, dan “petite”, “little”, “lil”, serta “tiny” yang sama-sama berarti “kecil” atau “mungil”.

Berdasarkan observasi tersebut, bisa diketahui bahwa terdapat semacam obsesi sangat besar yang dimiliki oleh masyarakat Amerika Serikat pada gadis-gadis “barely legal” tersebut, terutama di bidang pornografi di dunia maya.

-

Referensi:
  • Bureau of Justice Statistics. “BJS Activities on Measuring Rape and Sexual Assault”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. https://bjs.gov/content/pub/pdf/bjs_amrsa_poster.pdf
  • _______________________. “Rape and Sexual Assault”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. https://bjs.gov/index.cfm?ty=tp&tid=317
  • Durham, M. Gigi. 2008. “Lolita and The Sexualization of Childhood”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. https://pjmedia.com/blog/lolita-and-the-sexualization-of-childhood/
  • ______________. 2008. “The Lolita Effect: Sexy Girls in The Media”. Nabokov Online Journal. II.
  • ______________. 2008. The Lolita Effect: The Media Sexualization of Young Girls and What We Can Do About It. New York: The Overlook Press.
  • Gaul, Moira. 2008. “Statutory Rape Crime Statistics”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://frcblog.com/2008/04/statutory-rape-crime-statistics/
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Erotisisme”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://kbbi.web.id/erotisisme Kelly Find. “Teen Revenue Sites on KF”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://reviews.kellyfind.com/affiliate_programs/500
  • Merriam-Webster. “Eroticism”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://merriam-webster.com/dictionary/eroticism
  • Mulvey, Laura. 1999. “Visual Pleasure and Narrative Cinema”. Film Theory and Criticism: Introductory Readings. Editor. Leo Braudy dan Marshall Cohen. 833-844.
  • Norman-Eady, Sandra, Christopher Reinhart, dan Peter Martino. 2003. “Statutory Rape Laws by State”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. https://cga.ct.gov/2003/olrdata/jud/rpt/2003-r-0376.htm
  • Quality Adult Affiliates. “Teen Revenue”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://qualityadultaffiliates.com/teenrevenue/
  • Troup-Leasure, Karyl dan Howard N. Snyder. 2005. “Statutory Rape Known to Law Enforcement”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. https://ncjrs.gov/pdffiles1/ojjdp/208803.pdf
  • Teen Revenue. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://teenrevenue.com
  • University of California Santa Barbara. “Statutory Rape in America”. Online. Diakses pada 17 Oktober 2016. http://soc.ucsb.edu/sexinfo/article/statutory-rape-america

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Kampanye CELUP: Demi Berantas Asusila, Rela Terobos Hukum Positif dan Etika

Baru-baru ini, penulis dikejutkan oleh sebuah foto yang disebarkan oleh Official Account (OA) di media sosial LINE bernama ‘Sacriledgy’...