[REVIEW & ANALISIS FILM] 'The Heart of The World' Menurut Perspektif Postmodernisme dalam Teori Komunikasi

9:37 PM


The Heart of The World adalah sebuah film pendek karya sutradara asal Kanada yang bernama Guy Maddin. Film tersebut dibuat untuk ditayangkan pada Toronto International Film Festival dan memenangkan banyak penghargaan di enam festival film bergengsi di berbagai negara. The Heart of The World merupakan film yang ditampilkan dalam skema warna hitam putih dan hampir tanpa dialog sama sekali.

Film tersebut bercerita tentang dua bersaudara bernama Osip yang bekerja menangani mayat di rumah duka dan Nikolai yang merupakan seorang aktor yang memerankan peran Yesus Kristus dalam Passion Play atau teater kegerejaan. Mereka mencintai seorang perempuan yang sama, yaitu Anna yang merupakan seorang ilmuwan yang sedang meneliti inti bumi. Anna kemudian mengetahui bahwa inti bumi — atau disebut dengan the heart of the world yaitu jantung dari bumi — sedang dalam bahaya akan serangan jantung, yang berarti dunia akan segera kiamat sebentar lagi.

Anna yang mengumumkan bahwa bumi sedang sekarat karena jantung bumi akan terkena serangan jantung dan dunia akan kiamat.

Nikolai dan Osip pun saling berusaha mengesankan Anna dengan profesi mereka masing-masing; Nikolai berusaha secepat mungkin membalsami mayat-mayat yang sudah ramai menunggu antrean sedangkan Osip berusaha mengambil hati Anna melalui penderitaan yang dilalui oleh perannya sebagai Yesus Kristus di teater. Namun hati Anna malah jatuh ke tangan seorang industrialis kapitalis yang jahat. Meski begitu, di detik-detik perayaan bulan madu mereka Anna pun berubah pikiran dan mencekik laki-laki tersebut. Kemudian, Anna turun ke jantung/inti bumi dan menyelamatkan dunia dari kehancuran, dengan berubah menjadi “film” itu sendiri yang disebut sebagai “new and better heart — Kino”. Kino sendiri merupakan bahasa Rusia yang berarti “sinema” atau “film”, dan dalam film tersebut disebutkan sebagai “jantung bumi yang baru dan lebih baik dari sebelumnya”. Hal ini dipandang sebagai sesuatu yang unik, karena film The Heart of The World membahas “film” dalam filmnya dan sifat yang meta ini membuat film tersebut unik.

"Kino" yang diulang-ulang di layar.

Namun, bukan alur dan plot film saja yang membuatnya unik, The Heart of The World juga menerapkan teknik cut scene atau potongan gambar yang terus menerus secara konstan sehingga film yang hanya berdurasi enam menit tersebut pun bisa menyampaikan seluruh alur ceritanya secara komprehensif dengan jumlah potongan gambar mencapai dua cut scene dalam satu detik, yang berarti dalam film selama 6 menit 10 detik tersebut terdapat tiga ratus tujuh puluh cut scene. Selain itu, musik yang digunakan juga musik dengan BPM atau beats per-minute yang cepat sehingga audiens akan merasa selalu “kaget” dan melihat hal yang baru, sehingga atensinya akan terus tertuju ke film dan fokus ke film itu saja.

Berdasarkan film yang dirilis pada tahun 2000 tersebut, dapat dilihat bahwa banyak kritik yang terbenam di dalam filmnya dan menampilkan parodi satir dari hal yang dikritiknya. Menurut Prince (2004), salah satu ciri dari film postmodern sendiri adalah adanya penampilan parodi yang sifatnya satir.

Hal ini bisa ditelusuri pertama kali dari filosofi postmodernisme itu sendiri. Dalam Taylor (2002) dan Sim (2013), filosofi dari postmodernisme pada dasarnya berusaha untuk melawan strukturalisme dan seringkali mengeskpresikan skeptisismenya terhadap karakteristik oposisi biner yang dimiliki oleh strukturalisme, seperti memisahkan secara hitam-putih antara baik dengan buruk, dan pengetahuan dengan ketidaktahuan.

Prince (2004) pun menambahkan bahwa postmodernisme menolak mentah-mentah oposisi biner ini, karena seakan-akan mengeliminasi gray area dengan pemikiran hitam-putih.

Dalam film postmodern, filosofi postmodern yang menjadi tolak ukur atas penolakan atas oposisi biner seringkali dihadirkan dengan cara menyajikan unsur ironi di layar kepada audiens, yang mana ia memparodikan filosofi strukturalis dengan oposisi binernya dan justru menampilkan oposisi biner tersebut.

Unsur ironi yang ditampilkan melalui audio dan visual dari film bergenre postmodern itu sendiri dimaksudkan untuk memparodikan genre film lain. Booker (2007) menjelaskan bahwa film dengan genre postmodern akan berusaha menyamarkan diri dan melabeli dirinya sendiri sebagai bagian dari genre yang dianggap mainstream dan dikonsumsi oleh klahayak luas, seolah-olah film tersebut memang dimaksudkan untuk memiliki genre tersebut.

Prince (2004) juga menyatakan bahwa penyajian unsur ironi dengan cara memparodikan tersebut pun pada akhirnya melahirkan unsur baru, yakni ekstremisme, yang mana unsur ironi tersebut ditampilkan melalui visual dan penggambaran karakter dalam film secara ekstrem dan berlebihan untuk memberikan penekanan yang lebih terhadap ironi yang sengaja ditampilkan dalam film bergenre postmodern.

Dalam film postmodern, karakter utamanya seringkali digambarkan sebagai karakter yang tidak mudah untuk dibenci tapi juga tidak mudah untuk disukai — seakan-akan memparodikan film-film pada umumnya yang biasanya menggambarkan karakter utamanya sebagai karakter yang likeable sehingga penonton akan mendukung karakter tersebut (Ibid).

Dalam film The Heart of The World, Guy Maddin seperti berusaha menampilkan parodi satir dari film yang bersifat naratif dan terlalu fokus pada cerita dan menampilkan gambar yang lingering. Maddin pun akhirnya mencoba menunjukkan bahwa sebuah alur film yang lengkap dari awal sampai akhir bisa diselesaikan hanya dalam waktu 6 menit saja dengan jumlah potongan gambar sebanyak ratusan cut scene.

Dari teori yang disampaikan Booker (2007) di atas, The Heart of The World juga mengambil salah satu genre film yang mainstream yakni genre Romance atau kisah cinta, yang dalam film ini dimanifestasikan dalam persaingan cinta antara Nikolai dan Osip untuk memperebutkan hati Anna. Karakter yang ditampilkan dalam film tersebut juga bukan merupakan karakter yang mudah disukai, namun bukan juga karakter yang bisa dengan mudah kita benci sebagai audiens. Keabu-abuan yang hadir di tengah hitam dan putih inilah yang menjadi salah satu dasar dari filosofi postmodern. Kemudian keputusan Guy Maddin menampilkan unsur meta dengan cut scene bertuliskan “Kino” yang ditampilkan berulang-ulang juga semakin menunjukkan keinginannya untuk menampilkan karya satir terhadap dunia film. Berdasarkan nama karakter dan “Kino” yang khas dari bahasa Rusia, Guy Maddin bisa saja berkiblat pada postmodernisme Rusia yang menginspirasinya untuk membuat film The Heart of The World.

-

Referensi
  • Booker, M. Keith. 2007. Postmodern Hollywood: What's New in Film and Why It Makes Us Feel So Strange. California: Greenwood Publishing Group.
  • Maddin, Guy (Sutradara). 2000. “The Heart of The World” [film] 6 menit 10 detik.
  • Prince, Stephen. 2004. The Horror Film. New Jersey: Rutgers University Press.
  • Sim, Stuart. 2013. The Routledge Companion to Postmodernism. London: Routledge.
  • Taylor, Victor E. dan Charles E. Winquist. 2002. Encyclopedia of Postmodernism. London: Routledge.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...