10 Mitos yang Salah Mengenai Feminisme

2:10 AM




MITOS:

Feminis = pembenci pria

FAKTA:

Ini salah satu anggapan paling salah tentang feminisme yang beredar di masyarakat. Padahal feminisme sendiri adalah suatu pergerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak wanita di bidang politik, ekonomi, kultural, personal, dan lingkup sosial. Kalau pembenci pria, itu namanya misandri dan bukan merupakan feminisme.

***

MITOS:

Feminisme meninggikan perempuan tetapi melemahkan laki-laki

FAKTA:

Untuk mencapai kesetaraan gender, kita memang harus mendekonstruksi maskulinitas — tapi bukan berarti kita melemahkan laki-laki. Memperjuangkan hak suatu gender tertentu tidak harus dengan cara mengorbankan gender yang lain, karena tujuan yang ingin dicapai adalah kesetaraan.

Goal yang ingin dicapai adalah agar tidak ada gender yang dianggap lebih tinggi/lebih baik atau lebih pantas untuk melakukan/mendapatkan sesuatu dibanding gender yang lain.

Buktinya, pada saat Kartini berhasil memperjuangkan diperbolehkannya sekolah untuk perempuan toh tidak ada laki-laki yang tidak diperbolehkan sekolah sebagai gantinya.

***

MITOS:

Feminisme hanya memihak dan bermanfaat untuk perempuan

FAKTA:

Feminisme juga memihak dan bermanfaat untuk laki-laki, tidak hanya perempuan, karena feminisme berusaha untuk mem-breakdown peran-peran gender tertentu yang dikotak-kotakkan oleh masyarakat (contoh: perempuan di rumah mengurus rumah tangga, laki-laki bekerja) dan membuat laki-laki bisa keluar dari tradisi-tradisi yang masih terjebak dalam batasan maskulinitas. Misalnya, diskriminasi terhadap bapak rumah tangga karena adanya anggapan bahwa laki-laki adalah pihak yang harusnya bekerja di luar rumah, bukan mengurus pekerjaan rumah tangga, dan diskriminasi terhadap laki-laki korban kekerasan seksual yang masih dianggap remeh oleh masyarakat. Dengan feminisme, diharapkan diskriminasi tersebut akan hilang karena adanya kesetaraan gender dan tidak adanya peran gender.

***

MITOS:

Hanya perempuan yang bisa menjadi feminis

FAKTA:

Feminis bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang "dekat" dengan kita, seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, ketidakadilan upah, objektifikasi seksual, dll. ara paling efektif untuk menyelesaikannya adalah dengan melibatkan laki-laki untuk meningkatkan kesadaran dalam diri mereka — mulai dari hal sekecil mengajari anak laki-laki untuk saling menghormati perempuan hingga mengingatkan ayah dalam rumah tangga untuk ikut membantu pekerjaan rumah tangga dan turut berperan dalam mendidik anak-anak.

***

MITOS:

Untuk menjadi feminis, harus menjadi seorang ateis

FAKTA:

Meski ada beberapa kepercayaan yang masih sarat akan patriarki (meninggikan laki-laki dibanding perempuan), bukan berarti tidak ada ruang untuk perbaikan. Saat ini semakin banyak feminis yang menyuarakan kesetaraan gender dan mereka datang dari kalangan beragama, contohnya dari kalangan ulama perempuan.

Kamu tidak harus meninggalkan kepercayaanmu untuk bisa percaya bahwa perempuan memiliki hak-hak yang setara dengan laki-laki.

***

MITOS:

Para feminis tidak percaya dengan pernikahan

FAKTA:

Banyak feminis yang sudah menikah dan bahagia dengan pernikahan mereka. Selama pernikahan memberikan nilai personal, legal, dan sosial untuk kedua belah pihak yang terlibat, tidak ada alasan untuk menolak pernikahan.

Namun, feminisme jelas menolak anggapan dalam masyarakat yang menyatakan bahwa pernikahan adalah suatu cara untuk "mengontrol" perempuan, dan bahwa dengan menikah perempuan akan berada di "suatu tempat yang lebih baik" atau bahkan dianggap "lebih mulia" dibanding dengan mereka yang tidak/belum menikah; menyebabkan munculnya anggapan buruk pada janda dan munculnya istilah "perawan tua".

Selain itu, feminisme juga percaya bahwa pernikahan seharusnya diperbolehkan untuk semua gender dan semua orientasi seksual.

***

MITOS:

Feminis sejati tidak memakai makeup dan BH

FAKTA:

Aduh, ini anggapan dari mana pula. Feminisme justru memberikan kebebasan perempuan untuk memilih dan mengekspresikan diri mereka, bukan malah membatasinya. Asalkan pada saat pengambilan pilihan tersebut merupakan keputusan personal yang tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang terlebih lagi karena keterpaksaan, seperti karena tuntutan sosial, dll.

Suka pakai makeup? Then wear it. Tidak suka pakai makeup? Then don't wear it. Tapi jangan menganggap bahwa pilihan kalian lebih baik/tidak baik dibanding pilihan lain. It's that simple.

***

MITOS:

Feminisme adalah konsep dari barat

FAKTA:

Terminologi dan konsep "feminisme" sendiri memang berasal dari ilmuwan barat, tetapi sebenarnya pergerakan feminisme sudah sejak lama ada di berbagai daerah yang bukan merupakan negara barat, seperti Asia, Afrika, dan Amerika Selatan — meski dengan berbagai fokus berbeda yang telah disesuaikan dengan konteks lokal masing-masing daerah.

Kartini memperjuangkan hak mendapatkan pendidikan yang layak untuk perempuan juga termasuk pergerakan feminisme, lho.

***

MITOS:

Tidak ada perubahan pada ideologi feminisme

FAKTA:

Banyak perubahan yang terjadi pada ideologi feminisme seiring berjalannya waktu, termasuk perubahan fokus dan inklusivitas. Dulu saat gelombang pertama pada abad ke 19-20, feminisme fokus pada hak perempuan untuk terlibat dalam kesetaraan di bidang sipil dan politik yakni hak untuk dihitung suaranya dalam pemilu.

Feminisme sekarang mencakup sesuatu yang dinamakan "interseksionalitas" — meliputi berbagai aspek yang menyebabkan terjadinya opresi/tekanan sosial mulai dari ras, jenis kelamin, seksualitas/orientasi seksual, dan kelas (bawah, menengah, atas).

Sehingga, salah bila ada anggapan bahwa tidak terdapat perubahan pada feminisme.

***

MITOS:

Feminisme sudah tidak diperlukan lagi, karena sekarang perempuan kedudukannya sudah setara dengan laki-laki

FAKTA:

SALAH BESAR! Menurut laporan dari Organisasi Buruh Internasional PBB, perempuan di seluruh dunia rata-rata hanya mendapat gaji sebesar 77% dari gaji yang didapat laki-laki — hanya meningkat sebesar 3% selama 20 tahun! Selain itu, banyak pekerjaan yang tidak ramah untuk ibu dan jumlah perempuan yang duduk di jabatan tinggi di perusahaan dan bidang politik masih sangat sedikit.

Di negara berkembang seperti Indonesia juga masih banyak praktek pernikahan dini, menambah parahnya permasalahan di bidang kekerasan dalam rumah tangga, kematian ibu dan anak pada saat kehamilan dan proses kelahiran, dan kemiskinan.

Rape culture di Indonesia juga masih sangat kental dan masyarakat masih cenderung menyalahkan korban ketika ada kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan (dari hal-hal kecil seperti pertanyaan: Kenapa jalan sendirian? Kenapa pakaiannya tidak tertutup? Kenapa keluar malam? Dan lain sebagainya).

Bahkan penegak hukum seperti polisi dan hakim tidak jarang malah menunjukkan ketidakberpihakannya pada korban, justru menekannya (masih ingat kasus pelecehan seksual yang sempat heboh di dunia maya karena seorang polisi bilang bahwa hal tersebut tidak termasuk pelecehan seksual hanya karena perempuan tersebut memakai celana panjang?).

Dan masih banyak lagi kasus di seluruh dunia yang menunjukkan bahwa perempuan masih belum setara hak-haknya dengan laki-laki. Oleh karena itu, kita harus terus berjuang untuk memperjuangkan kesetaraan hak baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

***

Jadi jangan takut buat dicap sebagai feminis, ya. Anggapan buruk masyarakat terhadap feminis sesungguhnya ada karena kurang pahamnya mereka terhadap konsep feminisme itu sendiri.. Sehingga, yuk edukasi mereka.


Be proud to be a feminist because we're fighting for human's equal rights regardless their genders.


-

Terjemahan (dengan modifikasi) dari artikel asli oleh Devi Asmarani di Magdalene.co

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...