Perlunya Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Remaja di Indonesia

7:43 PM


Pendidikan kesehatan reproduksi di Indonesia masih tergolong terbelakang, terbukti dari absennya mata pelajaran yang mengkhususkan untuk mempelajari kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah Indonesia pada umumnya.

Padahal, dalam jurnal yang ditulis oleh Pakasi dan Kartikawati (2013: 79-80), isu kesehatan reproduksi dan kehidupan seksual dari remaja merupakan isu nasional yang berdampak besar dalam pembangunan negara, mengingat jumlah populasi remaja yang sangat besar serta terdapat dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan dari isu tersebut.

Tapi nyatanya, Indonesia masih juga belum mampu memberikan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi yang memadai pada remaja.

Hal ini terbukti dari hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2007 dalam Pakasi dan Kartikawati (2013: 80), yang menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja masih relatif rendah.

Dari hasil survei tersebut menunjukkan bahwa sebanyak 13% remaja perempuan tidak tahu tentang perubahan fisiknya. Dan yang lebih memprihatinkan, dari survei tersebut ditunjukkan bahwa masih sedikit sekali pengetahuan remaja tentang cara-cara menghindari infeksi HIV.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Hidayana, Noor, dan Pakasi pada tahun 2010 di Karawang, Sukabumi, dan Tasikmalaya, menunjukkan bahwa 60% dari responden perempuan dengan rentang usia 15-24 tahun telah menerima pendidikan tentang kesehatan reproduksi.

Namun, mayoritas dari mereka (70%) menyatakan bahwa materi yang mereka terima hanya sebatas bahaya dari melakukan hubungan seks, bukannya menerima pengetahuan tentang cara-cara menjaga kesehatan reproduksi, PMS dan cara mencegahnya, serta safe sex.

Latar belakang kultural masyarakat Indonesia yang memandang bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan seks merupakan tabu pun menyebabkan keterbatasan kanal informasi mengenai pendidikan seks itu sendiri di lingkungan sekitar, sehingga kian menghambat arus informasi para remaja terhadap pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi.

Bahkan pada bulan November pada tahun 2015, Mahkamah Konstitusi menolak permohonan uji materi terhadap UU Sistem Pendidikan Nasional agar mencantumkan pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum pendidikan, seperti yang dilansir dari berita BBC Indonesia.

Padahal bila pendidikan kesehatan reproduksi diajarkan sejak dini, maka anak-anak Indonesia akan lebih tahu dan paham mengenai apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan untuk menjaga kesehatan alat reproduksi mereka, terutama mengenai penyakit menular seksual, kontrasepsi, bahkan pengetahuan tentang tubuh mereka sendiri seperti menstruasi dan mimpi basah.

-

Referensi:
  • Hidayana, I. M., I. R. Noor, dan D. Pakasi. 2010. “Hak seksual perempuan dan HIV/AIDS” dalam Laporan Penelitian untuk Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Depok: Puska Gender dan Seksualitas FISIP UI.
  • Pakasi, Diana Teresa dan Rani Kartikawati. 2013. “Antara Kebutuhan dan Tabu:  Pendidikan Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja di SMA” dalam Makara Seri Kesehatan. 17(2): 79-87.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...