Menabung Emas

1:49 PM

Photo by Rainer Berg

Minggu lalu, aku jadi salah satu mahasiswa yang diundang Bank Indonesia Wilayah Provinsi Jawa Timur untuk datang ke acara penandatanganan perjanjian kerjasama program sosial Bank Indonesia: Beasiswa Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur di Gedung BI Surabaya  lebih tepatnya di Jalan Pahlawan, lokasinya pas banget sebelum Tugu Pahlawan.

Selain penandatanganan MoU dengan berbagai universitas mitra BI untuk Beasiswa BI, juga ada sosialisasi kebanksentralan dan ciri-ciri keaslian uang rupiah untuk para mahasiswa yang hadir disitu. Saat itu, oleh pemateri banyak dijelaskan tentang apa itu bank sentral beserta fungsi dan tugasnya yang notabene belum diketahui masyarakat luas (bahkan aku sendiri juga belum tahu lho, kalau gak dapet ilmu dari situ!). Salah satu tugasnya adalah mengatur inflasi negara agar stabil, karena sedikit inflasi tetap diperlukan untuk perkembangan ekonomi negara.

Dari situ aku jadi inget kasus hiperinflasi di Zimbabwe yang tanda-tandanya udah muncul sejak akhir tahun 90-an. Seketika aku buka Google dan coba cari-cari info untuk dibaca lebih lanjut, karena emang mereka terkenal dengan inflasi yang sangat parah sampai-sampai mata uang mereka satuannya gak main-main: ratusan triliun Zimbabwe Dolar. Buset dah. Perasaan Indonesia yang mata uangnya sampe ratusan ribu menurutku udah banyak banget, gimana mereka.

Kemudian aku dapet sebuah artikel di Quora, yang menjelaskan tentang awal mula hiperinflasi di Zimbabwe itu terjadi, mulai dari penyebab sampai akibatnya (dan bagaimana keadaan mereka sekarang).

Di situ dijelasin lengkap banget, terutama soal uang yang bener-bener kehilangan nilai mereka dan gak dihargai sama sekali, cuma hard assets aja yang punya potensi memiliki nilai tetap. Contoh aset keras misalnya tanah, rumah, emas, dll. Dan aku setuju sih, karena di kehidupan sehari-hari bisa kita lihat kalo kita investasi tanah bakal sangat menguntungkan, karena makin lama makin naik harganya (mostly karena inflasi, tapi the point is still the same: nilainya bakal tetap atau bahkan lebih tinggi).

Dari situ aku mulai mikir, aku harus mulai nyicil untuk nabung dalam bentuk hard asset karena selama ini aku nabung ya cuma dalam bentuk uang di bank. Padahal, overtime nilai uang itu sendiri akan tergerus oleh inflasi. Jadi kalo buat investasi jangka panjang kurang ideal, karena nilainya bakal berkurang seiring berjalannya waktu. Aku pun mulai mempertimbangkan untuk investasi dalam bentuk emas.

Kenapa emas?

Alasan pertama, karena harganya masih tergolong terjangkau untuk sebuah hard asset. Kita bisa beli mulai dari 1gr, kalo udah punya uang lebih bisa ditingkatkan secara progresif. Jadi, bisa banget buat disesuaikan sama budget kita pada saat itu. Kebetulan budget-ku tergolong lumayan, jadi aku bisa beli agak banyak dengan harga lebih murah tiap gramnya.

Alasan kedua, karena proses jual-belinya gak ribet sama sekali. Kalo mau beli ya beli aja, kalo mau jual ya jual aja. Gaada proses yang panjang kaya kita mau beli tanah atau rumah, yang harus balik nama, bayar pajak, ke notaris, dsb. Yang penting adalah ada sertifikat keaslian dan kemurnian emas itu sendiri, especially kalo kita beli emas dari Logam Mulia PT. Antam.

Alasan ketiga, karena nilainya cenderung stabil atau bahkan naik. Gaada tuh namanya ketar-ketir tiap hari mantengin nilai saham buat liat harganya naik atau turun, jadi sangat cocok buat investasi jangka panjang.

Alasan ketiga, karena bener-bener minimum risk, sehingga cocok buat pemula yang ingin mencoba investasi dalam hal lain selain cuma dalam bentuk uang.

Jadi gimana, tertarik buat mencoba menabung emas?

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...