Jakarta, 4 November 2016

11:23 PM


Hari itu, 13 Mei 1998.

Ibu saya menghabiskan waktu 4 jam mencari jalan alternatif untuk pulang dari kantornya di cakung ke rumah kami di daerah jakarta barat. Ia menangis sepanjang jalan mengingat saya di rumah yang baru berumur setahun hanya bersama baby sitter.

Hari itu. Ketika dagangan kami dijarah, toko kami diporak-porandakan, dan mereka tertawa-tawa sambil berlari-lari mendorong troli berisi barang hasil jarahan.

Hari itu, ketika perempuan2 tionghoa seumur saya sekarang, diperkosa dan dibunuh. Tanpa konfilk pribadi, hanya berdasarkan sentimen rasial.

Saya teringat teman saya bercerita. Pada hari itu, semua lelaki di keluarganya berjaga-jaga di depan rumah dengan pedang samurai. Ia, yang waktu itu baru berumur 4 tahun, menganggap hal tersebut merupakan suatu aksi yang heroik tanpa memahami betapa mencekamnya situasi pada hari itu.

Saya jadi berpikir, mengapa pada hari itu keadaan berubah menjadi sedemikian parah? Apakah hari itu adalah puncak dari sebuah polemik dan kebencian terhadap kaum saya yang sudah terpendam sejak ratusan tahun yang lalu?

-

Hari ini, 4 November 2016.

"Nanti hari jumat ga usah pulang." Pernyataan tersebut terlontar dari orang tua saya padahal saya sudah tidak pulang lebih dari 2 minggu dan rumah hanya berjarak 2 jam dari domisili saya saat ini.

"Apa mendingan kamu bolos aja besok?" Ibu saya menyarankan hal tersebut kepada adik saya padahal beliau sangat benci anaknya bolos sekolah/kuliah.

Kemudian saya membuka grup keluarga besar di wa yang sangat jarang saya buka karena isinya hanya quotes2 mandarin, pembelaan2 terhadap ahok, dan obrolan dalam bahasa yang tak saya mengerti. Dari situ saya paham, ibu saya tidak berlebihan.

Ada ratusan chat yang kira2 isinya : stay di rumah, beli banyak supply bahan makanan, dan berdoa.
Grup2 peers saya di line (yang rata2 kaum tionghoa jakarta) juga tak henti2nya saling mengingatkan untuk stay safe dan tetap berdoa.

Lalu saya menyadari, bukan hanya keluarga saya saja yang ternyata masih dihantui trauma 18 tahun lalu, tetapi semua kaum kami. Saya berusaha meyakinkan khalayak bahwa semua akan baik2 saja, tetapi kami tetap merasakan ketakutan yang mendalam.

Ketika sampai hari ini, saya melihat dengan mata sendiri, spanduk 'ganyang cina' terpampang di jembatan penyeberangan. Ketika saya berpikir, mengapa hari ini kami merasakan takut yang suudzon, padahal aksi hari ini adalah mengenai dugaan Basuki yang melakukan penistaan agama.

Hari itu saya masih menyusu pada ibu saya. Tetapi hari ini, saya mulai mengerti. Saya menolak lupa akan luka dan trauma yang kami derita. Saya cinta kaum saya, saya juga cinta bangsa ini. Kakek saya asli tiongkok tetapi beliau punya grand design untuk pembangunan negeri ini. Saya lahir disini, ayah saya menafkahi keluarga saya dari tanah negeri ini. Saya belajar hukum dan politik negeri ini, saya pendaki gunung dan penyelam lautan nusantara.

Harapan saya hanyalah semoga saya dan kaum saya, suatu hari, dapat terbebas dari trauma yang terbukti hingga hari ini, masih menghantui kami. Kami juga bagian dari bangsa Indonesia, kami memiliki cita-cita mulia agar kita semua, terlepas dari ras dan agama, bersama-sama membangun Indonesia menjadi bangsa yang besar sesuai mimpi-mimpi luhur pendahulu kita.

"Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma." — Joko Pinurbo 

-

Tulisan oleh Gabriella Gianova

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...