[REVIEW & ANALISIS FILM] 'Lovely Man' Menggunakan Teori Komunikasi

2:26 AM


‘Lovely Man’. Film karya Teddy Soeriaatmadja ini patut diacungi jempol karena telah mengangkat tema yang masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia: Transgender.

Dua tokoh utama dalam film ini – Syaiful atau Ipuy, seorang waria, dan Cahaya, anak dari Syaiful – mampu membuat penonton terhanyut dalam cerita yang penuh intrik berkat penyajian kontradiksi di antara mereka berdua.

Para waria dalam film ini digambarkan berdialog dengan bahasa yang diasosiasikan sebagai ‘bahasa waria’. Beberapa contoh adalah mengganti ‘aku’ dengan ‘eike’ dan ‘pergi’ dengan ‘capcus’.

Dari perspektif Teori Akomodasi di buku Littlejohn dan Foss (2009, p. 1), hal ini dilakukan para waria sebagai sarana konvergensi untuk mengikatkan diri dengan komunitas waria sekaligus divergensi untuk membedakan mereka dengan komunitas luar (selain waria). Konsekuensinya, mereka dianggap oleh masyarakat sebagai “orang luar” akibat penggunaan bahasa tersebut.

Jika kita lihat dari perspektif Social Identity Theory, teori itu menyatakan bahwa sebagian identitas sosial individu terbentuk dari organisasi atau perkumpulan tempat mereka berafiliasi, sehingga individu merasa termotivasi untuk berafiliasi dan berasimilasi dengan perkumpulan tersebut bila afiliasi tersebut dianggap menguntungkan bagi identitas personal individu (Littlejohn dan Foss 2009, p. 1).

Teori tersebut menjelaskan mengapa Syaiful atau Ipuy yang merupakan bagian dari komunitas waria penjaja jasa seks ikut-ikutan berkomunikasi dengan ‘bahasa waria’, menggunakan nada bicara yang genit, dan gestur tubuh yang gemulai.


Awalnya, dalam film ini Cahaya sedang mencari keberadaan ayahnya yang meninggalkannya dari umur 4 tahun. Terpisah selama 15 tahun, tentu saja Cahaya tidak memiliki bayangan akan penampilan ayahnya. Bagaimana sifatnya, apa pekerjaannya, bahkan di mana tempat ia tinggal – tidak satu pun diketahui oleh Cahaya.

Akhirnya Cahaya melakukan berbagai usaha untuk mengurangi ketidakpastian tersebut – menanyai kepada penduduk sekitar tentang keberadaan ayahnya dan tempat tinggalnya, dll. Ia melakukan apa yang dinamakan dengan Uncertainty Management seperti yang tertuang dalam buku Littlejohn dan Foss (2009, p. 37).

Saat Cahaya pertama kali melihat ayahnya yang ternyata adalah seorang waria, ia terkejut. Ia kaget, karena ayahnya tak sesuai dengan sosok ‘ayah’ yang seharusnya “sesuai” dengan harapannya: maskulin, rambutnya pendek, berpakaian atasan dan bawahan celana, nada suaranya rendah, bekerja sebagai pegawai kantoran maupun bekerja di warung atau toko kelontong – gambaran akan seorang laki-laki yang normal menurut standar masyarakat.

Ternyata jauh dari itu, Syaiful yang ia lihat berambut panjang, memakai make up, bergaya feminin, mengenakan gaun pendek, memakai sepatu hak tinggi, bernada suara tinggi, dan bekerja sebagai penyedia jasa seks. Inilah yang disebut dengan Expectancy Violations Theory, ketika terdapat perilaku komunikasi yang tak terduga dan tidak sesuai ekspektasi kita (Littlejohn dan Foss 2009, p. 367).



Sering kali bila kita melihat mainstream media yang ada di Indonesia, waria digambarkan sebagai sosok yang tidak pantas, hina, menjijikkan, sampah masyarakat, kaum terkucilkan, dan sebagainya.

Dari perspektif Cultivation Theory (Littlejohn dan Foss 2005, p. 288), media (dalam hal ini televisi) ikut berkontribusi atas pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa waria adalah sosok yang hina dengan cara memberi efek yang substil secara sedikit demi sedikit. Mulai dari representasi waria di acara televisi yang men-stereotipe mereka hingga penggambaran yang semakin meresonansi bahwa waria merupakan sosok yang melenceng dan tidak memiliki hak yang sama dengan masyarakat.

Dari perspektif Poststructuralism yang ada di buku Littlejohn dan Foss (2005, p. 329; 2009, p. 240), mereka yang mainstream ini melakukan dominasi atas kaum marjinal, yakni waria, dengan sarana bahasa. Yang paling sederhana adalah penggunaan kata ‘banci’. Selama ini kita menganggap bahwa kata ‘banci’ merupakan sinonim dari ‘waria’, sehingga penggunaannya dalam menyebut waria dianggap sah-sah saja.

Namun dalam media (dan akhirnya diadopsi oleh masyarakat dalam kegiatan berbahasa sehari-hari), kata ‘banci’ sering dijadikan kata yang berkonotasi negatif sehingga diasosiasikan sebagai kata ejekan dan olokan. Contohnya adalah mengejek seorang laki-laki dengan, “ah, kamu banci!” saat ia tidak berani atau takut melakukan sesuatu. Hal ini semakin mengokohkan eksistensi waria yang dianggap tercela di kalangan masyarakat, baik secara sadar maupun tidak.


Ketika kita melihat dari perspektif Teori Spiral of Silence (Littlejohn dan Foss 2005, p. 290), media berhasil menciptakan opini publik yang sifatnya mayoritas – dalam hal ini, opini yang menganggap bahwa waria adalah orang-orang yang menyimpang dan tabu, sehingga tidak patut untuk dibicarakan.

Ini bisa menjadi salah satu alasan yang menyebabkan mengapa jarang ada buah karya sineas Indonesia yang mengangkat Transgender sebagai topik utamanya.

Tidak hanya itu, Ideological State Apparatus (ISA) pun turut mengambil andil dalam melanggengkan anggapan-anggapan negatif tentang waria bila kita melihat dari perspektif Neo-Marxism yang dikemukakan oleh Louis Althusser di buku McQuail (2000, p. 77). Lebih spesifik lagi, ISA yang dimaksud adalah Agama.

Dari ajaran agama mayoritas di Indonesia, merupakan sesuatu yang dipandang berdosa besar apabila seorang lelaki menyalahi “kodrat” dengan berpenampilan atau berperilaku menyerupai perempuan. Masyarakat Indonesia yang terkenal religius pun akan berbondong-bondong mengiyakan doktrin tersebut, menganggap bahwa keberadaan waria adalah sesuatu yang patut untuk dibasmi. Sehingga, hal ini akan merembet ke dua ISA yang lain – yaitu pendidikan dan media.

Lain halnya dengan film ‘Lovely Man’. Dengan adanya film ini, Teddy Soeriaatmadja berhasil memberikan gambaran atas kehidupan Transgender yang banyak dicela oleh masyarakat dengan menyuguhkan sisi yang berbeda dari kebanyakan.

Bukan memberikan penilaian normatif, namun justru merepresentasikan penilaian atas keberadaan Transgender dari masyarakat sendiri. Menampilkan kontradiksi antara seorang perempuan berjilbab yang dianggap “suci” dan seorang waria yang dianggap “hina”, lalu membalutnya dengan adegan-adegan di mana masyarakat memberi masing-masing pihak perlakuan yang berbeda.

Ending yang meluluh-lantakkan emosi penonton membuat ‘Lovely Man’ meninggalkan kesan yang mendalam di hati mereka. Film ini bisa menjadi sarana refleksi bagi masyarakat, tentang bagaimana mereka sudah memperlakukan orang-orang yang “berbeda” dari mereka dan apakah mereka mampu dengan sepenuh hati menerima keberadaan orang-orang yang “berbeda” tersebut.



-

Referensi:
  • Baran, Stanley J. dan Dennis K. Davis. 2012. Mass Communication Theory: Foundations, Ferment, and Future (ed. 6). London: Wadsworth Cengage Learning.
  • Fiske, John. 1996. Introduction to Communication Studies (ed. 2). London: Routledge.
  • Griffin, Em. 2009. A First Look at Communication Theory (ed. 7). New York: McGraw-Hill.
  • Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 1999. Theories of Human Communication (ed. 6). Singapore: Wadsworth Publishing.
  • Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2005. Theories of Human Communication (ed. 8). Singapore: Wadsworth Publishing.
  • Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. California: SAGE Publications.
  • McQuail, Dennis. 2000. Mass Communication Theory (ed. 4). London: SAGE Publications.
  • O’Saughnessy, Michael dan Jane Stadler. 2006. Media and Society: An Introduction (ed. 3). Australia: Oxford University Press.
  • Severin, Werner dan James W. Tankard Jr. 1997. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media (ed. 4). New York: Longman Publishers.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...