[REVIEW BUKU] 'Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)' oleh Djenar Maesa Ayu

5:16 AM




Judul Buku:
Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)

Penulis:
Djenar Maesa Ayu

Penerbit:
PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit:
Oktober 2004

-

Apa yang kira-kira akan terjadi bila masyarakat yang konservatif, tertutup, dan terbiasa menganggap segala hal yang berhubungan dengan seks sebagai sesuatu yang tabu, tiba-tiba dibombardir dengan cerpen yang justru malah membahas seksualitas dengan bahasa luar biasa vulgar? Menuai banyak kontroversi, tentu saja. Menyulut banyak perdebatan, apalagi. Tetapi kenyataannya tak hanya dimaki, cerpen-cerpen buatan Djenar Maesa Ayu pun banyak dicintai.

Pada tahun 2004, perempuan kelahiran Jakarta tersebut mengompilasikan beberapa cerita pendek buatannya dalam sebuah buku yang berjudul Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu). Hampir semuanya pernah diterbitkan di beberapa surat kabar maupun majalah terkenal di Indonesia, seperti Harian Kompas, Koran Tempo, Harian Republika, dan masih banyak lagi.

Buku ini merupakan kumpulan sebelas cerita pendek yang terdiri dari Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Mandi Sabun Mandi, Moral, Menyusu Ayah, Cermin, Saya adalah Seorang Alkoholik!, Staccato, Saya di Mata Sebagian Orang, Ting!, Penthouse 2601, dan Payudara Nai Nai. Seperti biasanya, Djenar dengan gamblang memaparkan realita kehidupan perempuan melalui tokoh utama tiap-tiap cerpen (yang memang hampir semua berjenis kelamin perempuan) yang acap kali dianggap “tak pantas” atau “tidak baik-baik”, dan berhasil mengeksplorasi sisi seksualitas dari mereka. Gaya penulisan perempuan kelahiran tahun 1973 ini amat terlihat dalam tiap-tiap cerpen buatannya – tetap menggunakan bahasa yang vulgar, terang-terangan, blak-blakan, apa adanya, bahkan bagi sebagian orang bisa dianggap “kasar”. Tapi itulah Djenar.

Di tengah lenggak-lenggok karya sastra yang mengagungkan keromantisan hidup indah nan utopis semerbak dengan kisah cinta penuh fantasi, justru sensasi saat membaca tulisan-tulisan Djenar yang menyentak dan “nyata” seperti inilah yang memikat hati pembacanya, bahkan membuat mereka rindu. Bagaimana tidak, rata-rata cerita pendek dalam buku Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) bertema hubungan seksual, perselingkuhan, pengkhianatan, pelacuran, pelecehan, dan pemerkosaan. Jangankan begitu, tema besar dari buku ini secara keseluruhan adalah seks. Suatu hal yang masih dianggap sangat tabu oleh masyarakat Indonesia.

Semakin jauh mata menyapu huruf demi huruf, merangkai kalimat dalam pikiran dari apa yang terlihat, semakin pembaca dibuatnya terpana atas aspek ke-“nyata”-an dari cerita pendek tersebut. Ada sedikit perasaan yang terbesit bahwa cerita ini bisa saja merupakan kejadian yang dialami oleh wanita yang seratus persen nyata, dan perjuangan yang dihadapi oleh mereka bukan main beratnya. Inilah kekuatan tulisan Djenar. Memaparkan yang mungkin terjadi dan menggugah emosi para pembacanya untuk merasa simpatik kepada para pelacur, para kekasih gelap, para wanita binal yang berkali-kali dijadikan subjek cerita oleh Djenar. Seakan-akan kita bisa mengintip secara langsung kehidupan mereka yang terkesan “tak terjangkau” dan sehari-harinya terpinggirkan berkat prasangka kita. Djenar seperti mengajak kita untuk membuka mata kita, bahwa ada cerita memilukan di balik semua itu.

Secara keseluruhan, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) merupakan buku kumpulan cerita pendek yang bisa mempertahankan dengan baik koherensi tema antar cerpen. Tetapi mengingat betapa gamblangnya bahasa dan bahasan di buku ini, termasuk membahas tentang pemerkosaan, akan lebih baik bila diberikan peringatan trigger warning di sampul buku sebagai sarana preventif untuk pembaca yang memiliki trauma pada hal-hal tertentu yang bisa tersulut akibat membaca buku ini.

Terlepas dari itu, Djenar Maesa Ayu berhasil menciptakan rasa penasaran dan tak sabar bagi pembaca untuk segera menyelesaikan satu cerpen agar bisa membaca cerpen selanjutnya. Berpindah dari satu cerpen ke cerpen lain merupakan pengalaman yang menyenangkan. Belum lagi atas keberaniannya mengangkat suatu topik yang mungkin akan membuat sebagian besar masyarakat Indonesia mengernyitkan dahi, perempuan berusia 43 tahun ini patut diacungi jempol atas tulisannya yang bisa menciptakan dualitas opini dari para pembacanya – dimaki dan dicintai.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...