Catfish: Permainan Identitas dan Muslihat Berkedok Anonimitas - Artikel Ilmiah tentang Internet

10:09 AM


Abstract

As technology improved and ever since the Internet has been invented, came The Second Media or New Media Age that enables the new way to communicate with each other via computer.

Different from Face to Face communication (FtF), Computer-Mediated Communication (CMC) uses the Internet as some sort of virtual space which has a role in connecting everyone from the edge of the world, with no limit of space nor time.

The Internet is a place where anonymity is glorified to develop an opportunity to create a totally different persona of yourself apart from your real life identity; given the fact that the communication is mediated by computer in cyberspace which would later cause social deteritorialization—even deterioration. But those no-limit policy wasn’t exactly limitless.

In fact, there is a huge gap and boundary that separates FtF and CMC. The seemingly real-time interaction on the Internet is apparently tied by the limitedness of space and time. In such situation, the risk of someone pretending to be someone they're not to create false identities is huge.

Rather than a pseudonym, they built a fictional, completely different alter ego from what they really are in real life, usually aiming for establishing an online relationship with someone on the Internet, creating a whole new individual. This practice has become so common on Facebook, Twitter, Instagram, and other social medias, that the world has a dedicated term to call those certain imposters.

We’d call them, a Catfish.

-

Abstrak

Seiring berkembangnya teknologi dan ditemukannya Internet, datanglah masa Second Media/New Media atau Media Baru yang memunculkan cara baru untuk berkomunikasi dengan satu sama lain melalui komputer.

Berbeda dengan komunikasi tatap muka secara langsung (Face-to-Face Communication atau FtF), komunikasi yang termediasi oleh komputer (Computer-Mediated Communication atau CMC) menggunakan Internet sebagai suatu ruang virtual yang memiliki peran untuk menghubungkan semua orang dari seluruh penjuru dunia, tanpa adanya batasan ruang ataupun waktu.

Internet merupakan suatu tempat di mana anonimitas diagung-agungkan, karena ia memberi kita kesempatan untuk membangun persona diri sendiri yang sangat bertolak belakang dengan identitas kita di dunia nyata; didukung dengan fakta bahwa komunikasi tersebut termediasi oleh komputer di ruang siber yang nantinya akan menyebabkan deteritorialisasi sosial — bahkan deteriorisasi.

Akan tetapi kebijakan tanpa batas tersebut belum tentu tidak terbatas. Faktanya, terdapat sebuah jarak dan batasan sangat besar yang memisahkan FtF dengan CMC. Interaksi yang terlihat real-time di Internet ternyata terikat oleh keterbatasan ruang dan waktu. Dalam situasi tersebut, resiko di mana seseorang berpura-pura menjadi orang lain untuk menciptakan identitas palsu sangatlah besar.

Alih-alih menggunakan pseudonym atau alias, mereka malah membuat alter ego yang amat berbeda dari kehidupan mereka di dunia nyata, menciptakan sesosok individu yang sama sekali baru. Hal tersebut biasanya bertujuan untuk membangun hubungan secara online dengan seseorang di Internet. Praktek ini menjadi hal yang sangat sering ditemui di Facebook, Twitter, Instagram, dan media sosial lainnya, hingga muncul sebuah istilah yang didedikasikan khusus untuk menyebut mereka.

Mereka adalah Catfish.

Keywords: Catfish, Internet, Dunia Maya, Cyberspace, Anonimitas, Pseudonym, Teori Media Baru, Computer-Mediated Communication, Face to Face Communication, Facebook, Media Sosial

-


Secara harfiah, kata Catfish berasal dari kata dalam Bahasa Inggris yang apabila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti “ikan lele” — suatu spesies ikan yang hidup di air tawar dengan nama ilmiah Clarias batrachus.

Namun, semenjak pertama kali ditayangkannya film dokumenter dengan judul Catfish pada tahun 2010, Catfish bergeser arti menjadi istilah modern di era informasi ini untuk menyebut seseorang yang berpura-pura menjadi seseorang yang lain dengan menciptakan identitas baru di Internet, terutama di media sosial, biasanya dengan tujuan menjalin hubungan romansa secara online (urbandictionary.com).

Poster film Catfish

Film Catfish menceritakan sebuah kisah nyata tentang hubungan romansa antara seorang pemuda dari New York bernama Nev dengan seorang gadis berumur 19 tahun bernama Megan yang berasal dari Michigan. Mereka terus menjalin hubungan tersebut di dunia maya melalui media sosial Facebook, hingga pada suatu hari Nev menemukan kejanggalan-kejanggalan dalam sikap Megan di Facebook.

Karena anomali dari sikap Megan kian hari kian besar, akhirnya Nev memutuskan untuk mengunjungi Megan di Michigan. Pada saat itu terungkaplah kenyataan mengejutkan bahwa Megan di dunia nyata bukanlah orang yang sama dengan orang yang ada di profil Facebook-nya.

Megan adalah Angela, wanita pengangguran pengidap Skizofrenia dengan seorang anak laki-laki penderita cacat mental. Di tengah keputusasaannya dengan kehidupan nyata, Internet hanyalah satu-satunya cara yang bisa Angela andalkan untuk melarikan diri sejenak dari pahitnya kenyataan, di mana wanita yang sebenarnya berusia 40-an tersebut memuaskan fantasinya: hidup di dunia maya sebagai orang lain, yaitu sebagai Megan, dan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki secara online.

Setelah mengetahui realita tersebut, alih-alih menciptakan permusuhan — Nev justru malah berbesar hati untuk memaafkan Angela. Mereka masih berteman hingga sekarang.

Pada akhir film, suami Angela yang bernama Vince berkisah mengenai permasalahan distributor seafood yang mengekspor ikan kod dari Alaska, Amerika Serikat, ke Cina.

Permasalah tersebut disebabkan oleh perjalanan yang amat jauh dan memakan waktu lama. Daging ikan kod pun menjadi lembek, karena selama perjalanan mereka tidak banyak bergerak. Kemudian, para pengekspor ikan kod tersebut menemukan cara untuk menjaga daging ikan kod tetap segar, yaitu dengan memasukkan ikan lele ke satu tangki yang sama dengannya.

Oleh karena ikan lele adalah musuh alami ikan kod, mereka membuat ikan kod banyak bergerak, dan hal tersebut terbukti efektif untuk menjaga daging ikan kod agar tidak lembek.

Lalu Vince berkata bahwa beberapa orang diibaratkan seperti catfish (ikan lele) yang ditambahkan ke dalam tangki untuk menjaga kualitas codfish (ikan kod) yang nantinya akan menjadi hambar dan kehilangan cita rasanya bilamana tidak dilakukan hal tersebut.

Maksud dari pernyataan Vince di atas yaitu ada beberapa orang yang berperan sebagai catfish dalam kehidupan kita, yang mana orang tersebut seakan-akan memberi variasi dalam interaksi antar manusia kita dan menjaga hidup kita jauh dari kebosanan.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas, salah satunya agar selalu berhati-hati terhadap siapa pun yang berinteraksi dengan kita di Internet, karena kita tidak bisa tahu pasti apakah identitas orang tersebut di dunia maya sesuai dengan identitas aslinya di dunia nyata.

Film inilah yang menginspirasi lahirnya acara TV dengan judul yang sama di saluran televisi MTV, dimana Nev membantu pemohon yang ingin mencari tahu apakah kekasih mereka di dunia maya adalah seseorang yang nyata atau hanyalah sebatas Catfish.

Yang menjadi permasalahan di sini adalah, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?


Bagaimana bisa muncul Catfish? Apa yang memungkinkan seseorang bisa berubah menjadi individu yang lain di Internet? Bagaimana kita bisa tidak betul-betul mengenal orang yang berinteraksi dengan kita walau orang tersebut terasa begitu dekat?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari fenomena di atas, kita perlu pertama-tama membahas tentang komunikasi yang diperantarai oleh komputer, yaitu Computer-Mediated Communication (CMC).

Komunikasi adalah kegiatan yang unik, dinamis, dan rumit. Tiap-tiap manusia pasti berkomunikasi dengan sesamanya, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Karena komunikasi tidak mungkin bisa terjadi dalam keadaan vakum, suatu kegiatan komunikasi pasti memerlukan perantara sampai batas-batas tertentu (Thurlow, 2004, hal. 18-19).

Perantara tersebut bisa kita katakan sebagai saluran atau media. Mulai dari media komunikasi langsung berupa udara, hingga media komunikasi tidak langsung.


Seiring berkembangnya peradaban manusia, media-media komunikasi tidak langsung juga ikut berkembang. Mulai dari hal sederhana seperti surat-menyurat dengan sahabat pena, lalu berkembang dengan ditemukannya telegram dan radio yang mendukung penyampaian pesan pada zaman perang secara cepat — sesuai untuk menyalurkan informasi dengan tingkat urgensi tinggi, hingga diciptakannya saluran komunikasi modern seperti telepon dan telepon genggam yang menandakan majunya teknologi.

Penemuan-penemuan tersebut semakin memudahkan manusia untuk bisa berkomunikasi kapan pun dan dimana pun, seakan-akan bisa menghilangkan jarak ruang dan waktu.

Namun, semua media komunikasi tidak akan pernah sama semenjak ditemukannya komputer dan munculnya komunikasi jaringan, yang ditandai dengan tersedianya Internet untuk diakses khalayak luas di akhir tahun 1980-an.

Penemuan ini menyebabkan terjadinya jenis komunikasi yang lebih rumit, yakni komunikasi yang termediasi komputer, yang lebih luas diketahui dengan istilah Computer-Mediated Communication atau biasa disingkat dengan CMC.

Komunikasi dengan media komputer atau Computer-Mediated Communication (CMC) adalah suatu bentuk komunikasi menggunakan komputer dan jaringan Internet sebagai media komunikasi, dan komunikasi tersebut terjadi pada sebuah koleksi global dari suatu jaringan yang memanfaatkan deretan Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) untuk pertukaran data (December dalam Ean, 2011, hal. 3).

Jadi, komunikan mengirimkan pesan melalui komputer yang mentransmisikan data pada ISP (Internet Service Provider), diteruskan ke satelit di angkasa yang nantinya akan dipantulkan dan ditangkap oleh ISP tujuan di belahan dunia yang lain, lalu ditransmisikan pada komputer komunikan, begitu pula sebaliknya.

Kumpulan data yang melayang tersebut menciptakan sebuah ruang virtual atau cyberspace, membuat efek dunia seperti bergabung menjadi satu kesatuan dan tiada batasan.


Internet diagung-agungkan sebagai perantara komunikasi yang cepat, lintas batas, serta bisa melampaui ruang dan waktu, sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi antar manusia di berbagai belahan dunia secara real-time dan mengaburkan batasan-batasan yang biasanya ditemukan dalam Face-to-Face Communication (FtF) atau komunikasi tatap muka secara langsung di dunia nyata. Misalnya nama, jenis kelamin, usia, status sosial, dan sebagainya.

Menurut Narwoko (2004, hal. 405), CMC melahirkan semacam deteritorialisasi sosial, yang artinya interaksi sosial tidak dilakukan di dalam sebuah teritorial ruang yang nyata, tetapi dilakukan di dalam sebuah halusinasi teritorial yang membuat seseorang bisa saja terasa sangat dekat dengan seseorang yang berada di belahan dunia yang lain ketika berinteraksi melalui Internet walau tanpa pernah bertemu sekalipun, dibandingkan dengan orang-orang yang benar-benar dekat secara ruang dan waktu dengannya, contohnya dengan tetangganya sendiri.


Dalam bukunya Littlejohn (2008, hal. 414), Pierre Levy juga mengemukakan hal yang kurang lebih sama, yakni bahwa dunia maya memberikan tempat untuk berinteraksi yang semu.

Dengan bukti-bukti yang dikemukakan di atas, tentulah masuk akal apa bila kita menyebut Internet dengan sebutan “dunia maya” atau “virtual world”, karena tidak adanya physical appearance yang nyata dari interaksi di Internet.

Salah satu dari beberapa karakteristik Internet, yang berlawanan dengan FtF, adalah no sense of place. Yang mana komunikasi terjadi di suatu ruang virtual yang menyediakan konsep anonimitas, sehingga memungkinkan terjadinya multiplikasi peran dan jati diri dari tiap-tiap penggunanya (Tambyah dalam Narwoko, 2004, hal. 405) karena walau Internet mampu membuat interaksi terjadi secara real-time, secara raga nyatanya penggunanya masih tetap dibatasi oleh ruang dan waktu, menyebabkan kurangnya tanda dan lambang dalam proses CMC.

Hal ini berpotensi menimbulkan kekurangjelasan interaksi di Internet.


Sedangkan dalam FtF, komunikasi terjadi menggunakan lima panca indera manusia yang berfungsi sehingga terbentuklah suatu sense of place, yakni, “saat itu saya sedang berada di tempat itu.”

Inilah hal yang tidak dimiliki oleh CMC, yakni tanda dan lambang non-verbal yang biasanya hadir dalam FtF dan bisa "dirasakan" oleh komunikan, seperti bau-bauan, pakaian yang dipakai, gestur tubuh, microexpression, dan lain sebagainya.

Judith S. Donath (1998, hal. 46) juga turut menjelaskan dalam jurnalnya, bahwa ada kecenderungan seseorang lebih mudah berpura-pura menjadi orang lain karena adanya keterbatasan tanda dan lambang non-verbal saat melakukan komunikasi di Internet.

Kurang jelasnya tanda-tanda dan lambang dalam CMC inilah yang berpotensi melahirkan konsep anonimitas, yang bisa memberikan kesempatan pengguna Internet untuk membangun persona yang benar-benar baru dan berbeda dengan identitas mereka di dunia nyata.

Selain itu, sangatlah mungkin untuk seseorang memiliki banyak identitas berbeda di dunia maya karena adanya karakteristik no sense of place dalam CMC. Bahkan ada pepatah beredar yang mengatakan bahwa anonimitas di Internet sangatlah kuat, sehingga bisa saja orang yang berada di balik layar monitor tersebut adalah seekor anjing — dan kita tak akan pernah tahu dengan pasti.

Menggambarkan anonimitas di Internet (Steiner, 1993)


Jadi, apakah anonimitas sebenarnya menguntungkan?
Atau justru malah merugikan?


Anonimitas di Internet sebenarnya bisa sangat berguna bagi orang-orang yang ingin melindungi identitasnya agar privasinya terlindungi dan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan menyangkut identitas mereka di dunia nyata.

Misalnya saja apabila kita ingin menyampaikan informasi sensitif ke salah satu pihak kita bisa saja menggunakan pseudonym atau nama alias untuk menyembunyikan identitas asli kita agar keselamatan kita tidak terancam dan terlindung dari pencurian identitas yang banyak dimanfaatkan oleh scammer, yang berpotensi membahayakan kredibilitas kita di dunia nyata.


Konsep anonimitas di dunia maya juga bisa dimanfaatkan oleh mereka yang populer di internet namun menghindari ketenaran tersebut di dunia nyata, sehingga mereka memilih untuk tidak menggunakan nama aslinya. Selain itu, masih banyak lagi manfaat yang bisa kita ambil dengan adanya anonimitas di dunia maya yang mayoritas berhubungan dengan perlindungan identitas.

Namun, di balik semua kelebihan dari konsep anonimitas Internet yang menawarkan perlindungan privasi, terdapat pula sisi buruk yang berpotensi merugikan banyak orang.

Kembali pada pepatah di atas, dengan adanya anonimitas kita tidak akan bisa benar-benar mengetahui identitas asli seseorang di Internet, siapa yang sebetulnya berada di balik layar monitor dan keyboard.


Keadaan seperti inilah yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh beberapa kalangan yang memalsukan identitas dengan tujuan kriminal, seperti penipuan, penculikan, bahkan pemerkosaan yang diawali dari interaksi di dunia maya.

Akan tetapi, ada pula pihak-pihak yang sekedar memanfaatkannya sebagai pelarian dan mengidamkan sebuah kehidupan yang berbeda terlepas dari identitas sosial di dunia nyata serta memenuhi fantasinya, dengan cara hidup melalui identitas baru yang diciptakan.

Pihak-pihak inilah yang disebut dengan istilah Catfish.

Seorang Catfish akan berusaha menarik individu lain dengan identitas palsunya untuk menjalin hubungan dengannya. Ia tidak memiliki maksud untuk melakukan kejahatan seperti penipuan, pemerasan, dan sebagainya, namun tetap tidak menutup kemungkinan untuk seseorang bisa melakukan kejahatan demikian dengan identitas palsunya.

Akan tetapi biasanya motif seorang Catfish melakukan pemalsuan identitas hanya karena menginginkan sebatas hubungan romansa di dunia maya, seperti apa yang dilakukan oleh Angela, atau hidup menjadi orang lain di Internet demi mendapat perhatian, popularitas, dan publikasi.

Sudah banyak kisah tentang orang-orang yang menjadi korban dari Catfish, beberapa contoh bisa kita temukan dari reality show di MTV dengan nama Catfish. Mereka sudah terlanjur menjalani hubungan dengan seseorang dari media sosial atau biro jodoh online, bahkan banyak di antaranya yang berjalan dalam waktu sangat lama. Banyak yang merasa sangat dekat dan sangat yakin dengan pasangannya di dunia maya.

Tetapi, kenyataan berkata lain.

Saat mereka mengunjungi rumah kekasih online-nya, mereka menyingkap kebohongan yang menyelimuti hubungan mereka selama ini, pasangan mereka di Internet bukanlah orang yang sama di dunia nyata. Mereka selama ini menjalin hubungan dengan Catfish.

Dari fenomena beserta bukti-bukti di atas, penulis bisa memberi konklusi bahwa Catfish hanyalah seseorang yang mendambakan kehidupan yang lain di dunia maya dengan cara menciptakan sebuah persona yang berbeda dengan identitas mereka di dunia nyata untuk memuaskan hasrat mereka menjalin hubungan romansa di dunia maya.

Hal ini bisa terjadi karena adanya konsep anonimitas sebagai salah satu karakteristik dari Internet serta kurang jelasnya tanda dan lambang dari komunikasi yang terjadi di Internet, sehingga memungkinkan mereka bermain peran sebagai orang lain.

Oleh karena itu, walau kadang kita bisa merasa sangat intim dengan seseorang di Internet, tetap saja interaksi kita dilakukan di ruang yang semu, yaitu dunia maya; kita ditundukkan oleh deteritorialisasi sosial yang membuat kita berpikiran seperti itu.

Hilangnya batasan-batasan yang disebabkan oleh nonverbal cues juga turut andil dalam memberikan sense of intimacy itu sendiri.

Anonimitas tidak selamanya buruk, tetapi hal inilah yang dimanfaatkan beberapa pihak seperti Catfish. Catfish bisa jadi tidak berbahaya atau merugikan secara langsung dibandingkan dengan pemalsuan identitas dengan motif penipuan, penculikan, pemerasan, dan maksud jahat lainnya.

Tetapi, ia merugikan orang yang tertipu dan menjalin hubungan dengannya secara psikologis, karena orang-orang tersebut sudah terlanjur percaya bahwa identitas kekasih mereka di dunia maya sama dengan identitasnya di kehidupan nyata.

Dalam acara TV Catfish, sebagian besar korban Catfish merasa sedih dan tak percaya selama ini mereka menjalin hubungan dengan orang yang tidak nyata.

Tentu fenomena tersebut bisa menjadi pelajaran dan peringatan bagi kita semua agar kita selalu waspada akan identitas semua orang yang berinteraksi dengan kita di dunia maya.

Berikut adalah hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengecek validitas dan kredibilitas orang yang berkomunikasi dengan kita di dunia maya agar tidak menjadi korban Catfish, antara lain:
  1. Jangan mudah percaya dan terlalu naif, selalu berhati-hati dan waspada terhadap keontetikan identitas orang yang berinteraksi dengan kita di Internet.
  2. Melakukan crosscheck, misalnya dengan cara mencari nama orang yang bersangkutan di mesin pencari seperti Google, melihat mutual friends-nya, apakah ada orang yang kita kenal yang mengenalnya secara pribadi dan pernah bertemu di dunia nyata, dan sebagainya.
  3. Mintalah foto orang yang bersangkutan sambil memegang kertas bertuliskan nama Anda atau sambil melakukan hal spesifik lain yang anda minta (sambil memegang sendok di tangan kiri contohnya), hal itu bisa menjadi bukti bahwa ia adalah orang yang nyata. Namun, berhati-hatilah pada software canggih yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk memanipulasi foto, seperti Adobe Photoshop.
  4. Ajaklah orang tersebut untuk melakukan video call dengan Anda. Bila ia menolak atau bahkan merasa tersinggung atas ide Anda, hindari berkomunikasi kembali dengan orang itu.
  5. Cobalah minta orang yang bersangkutan untuk menemui Anda secara langsung, atau sebaliknya — ajak mereka bertemu dengan Anda. Apabila ia selalu memiliki alasan untuk menghindari hal tersebut, seperti hal di atas, bisa jadi ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
Kesimpulannya adalah, seberapa nyatanya hubungan yang dibina di dunia maya tetap harus waspada, karena tidak akan ada yang bisa menggantikan otentisitas dari komunikasi di dunia nyata.

Ditulis oleh: Detara N. Prastyphylia
Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Airlangga, Surabaya

-

Referensi:
  • Boyd, Danah. 2008. "Why Youth ♥ Social Network Sites: The Role of Networked Publics in Teenage Social Life". Dalam David Buckingham, Youth, Identity, and Digital Media (hlm. 119-142). Massachusetts: The MIT Press.
  • Casserly, Meghan. (2011). “Multiple Personalities and Social Media: The Many Faces of Me, [online], (http://forbes.com/sites/meghancasserly/2011/01/26/multiplepersonalities-and-social-media-the-many-faces-of-me, diakses 28 September 2016).
  • Chen, Adrian. (2010). “Catfish and The Death of Online Anonimity”, [online], (http://gawker.com/5646558/catfish-and-the-death-of-online-anonymity, diakses 28 September 2016).
  • ___________. (2013). “Don’t Be A Stranger”, [online], (http://thenewinquiry.com/essays/dont-be-a-stranger, 28 September 2016).
  • December, John. 1996. “Units of Analysis for Internet Communication”. Journal of Communication. 46: 14-38.
  • Donath, Judith S. 1999. “Identity and Deception in The Virtual Community”. Dalam Petter Kollock dan Marc A. Smith (Eds.), Communities in Cyberspace (hlm. 29-59). London: Routledge.
  • Ean, Lee Cheng. 2011. “Computer-Mediated Communication and Organisational Communication: The Use of New Communication Technology in The Workplace”. The Journal of South East Asia Research Centre for Communication and Humanities. 3:1-12.
  • Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Anchor Books.
  • Ichheiser, Gustav. 1949. “Misunderstandings in Human Relations: A Study in False Social Perception.” The American Journal of Sociology. 55 (2): 1-4.
  • Littlejohn, Stephen W. dan Karen A. Foss. 2008. Theories of Human Communication. (ed. 9). Terjemahan oleh Mohammad Yusuf Hamdan. 2009. Jakarta: Salemba.
  • Metzler, David. (Produser). 2012 - sekarang. Catfish: The TV Show. Relativity. New York, Amerika Serikat. 60 Menit.
  • Moerdijati, Sri. 2012. Buku Ajar Pengantar Ilmu Komunikasi. Surabaya: Revka Petra Media.
  • Mulyana, Deddy. 2009. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda.
  • Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2004. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.
  • Peick, Annika. (2013). “The Psychology of A Catfish”, [online], (http://drakejournalism.com/socialclass/2013/03/07/the-psychology-of-a-catfish, diakses 28 September 2016).
  • Rankin, Russ. (2014). “Catfishing and The Despair of Online Relationships”, [online], (http://commdiginews.com/entertainment/catfishing-and-the-despair-of-online-relationships-22868, diakses 28 September 2016).
  • Saedi, Goal Auzeen. (2012). “Catfish and The Perils of Online Dating”, [online], (http://psychologytoday.com/blog/millennial-media/201212/catfish-and-the-perils-online-dating, diakses 28 September 2016).
  • Schulman, Ariel. (Produser). 2010. Catfish. Relativity. New York, Amerika Serikat. 87 menit. _____________. (2010). “Catfish (2010)”, [online], (http://imdb.com/title/tt158401, diakses 28 September 2016).
  • Steiner, Peter. (Kartunis). 1993. The New Yorker edisi 5 Juli 1993.
  • Thurlow, Crispin. dkk. 2004. Computer-Mediated Communication: Social Interaction and The Internet. London: SAGE.
  • Urban Dictionary. (2010). “Definition of Catfish”, [online], (http://urbandictionary.com/define.php?term=catfish&defid=5112813, diakses 28 September 2016).
  • Whitty, Monica dan Adam Joinson. 2009. Truth, Lies, and Trust on The Internet. London: Routledge.

You Might Also Like

0 comments

Featured Post

Disney Princess Syndrome yang telah Membudaya dalam Konsep Pernikahan

Bila berbicara mengenai konsep pernikahan yang dalam beberapa kasus dianggap sebagai sebuah jalan keluar bagi pihak perempuan (McLaugh...